Mengakhiri Nafsu Berkedok Cinta

Aku pernah mencintai dan merasa ingin memiliki seutuhnya sesuatu yang bukan milikku. Aku sangat takut kehilangan padahal aku tidak mungkin kehilangan sesuatu yang bahkan tidak kumiliki.


Au mencintainya karena merasa diperlakukan seperti seorang putri. Waktu itu aku sempat bilang padanya, aku tidak tau permintaanku yang mana yang tidak dia penuhi. Kedekatan itu semakin menjadi saat kami terpilih menjadi ketua dan sekretaris umum OSIS. Sebenarnya aku menyadari bahwa ketertarikan pada lawan jenis itu adalah fitrah yang disematkan bersama penciptaanku sebagai menusia. Tapi rasa itu bukan untuk disemikan dengan cara saling mengungkapkan rasa, atau pun kedekatan yang melanggar syari’at agama. Kami memang tidak pernah keluar berdua atau ­­nge­-date seperti orang pacaran, tapi kami saling menyimpan rasa, mengungkapkannya, lalu buncahan-buncahan ketertarikan akan semakin mendesir dalam dada kami. Entah bagaimana caranya, tapi iblis sangat tau cara untuk menjerumuskan iman kami. Semua ini terlarang bagiku maupun dia, bukan hanya karena kami anak rohis sehingga tidak boleh terjebak skandal VMJ (Virus Merah Jambu), tapi juga karena kami ini hamba Allah, yang dititipi amanah hidup untuk beribadah pada-Nya, bukan untuk menuruti hawa nafsu yang bertopeng “cinta”.


Saat aku menyadari bahwa gayung telah bersambut, hatiku semakin terpaut padanya. Dulu aku sempat menjadi sangat posessive, begitu takut kehilangan dia, walaupun sisi hatiku yang lain menytakan bahwa tidak mungkin aku kehilangan, karena dia pernah berjanji padaku. Karena janjinya itu, aku mengabaikan bahwa Allah yang memutuskan semuanya, bahwa ada sesatu bernama takdir yang menantiku di ujung jalan ini, bahwa sekuat apa pun aku mempertahankannya, bila Allah menakdirkan aku dan dia bukan jodoh, maka tidak ada yang dapat kami lakukan.


Dia pernah berjanji padaku bahwa dia akan mencintai aku—hanya aku—untuk selamanya. Dengan berpegangan pada janji itu, aku menaruh keyakinan bahwa apa yang kai rasakan akan berlangsung untuk selamanya.


Aku tidak pernah menginginkan sesuatu lebih dari keinginanku untuk menikah dengan dia suatu saat nanti. Sesekali dia pernah mengingatkan bahwa ada takdir yang menentukan jalan kita nantinya, bila nanti kita tidak jodoh.... Tapi aku tidak pernah sepenuhnya mengerti dengan kalimat sederhana itu. Ketika dia mengatakan hal tersebut, aku langsung mengklaim bahwa dia sudah tidak mencintaiku lagi dan telah memutuskan untuk meninggalkanku. Mendengar klaimku yang sangat childish dan begitu posessive, dia pun serhenti hanya di pernyataan itu, tanpa memberi melakukan reasoning apalagi elaboration (dalam debat, dikenal assertion, reasoning, elaboration, lalu link back).


Semua kenangan yang kulalui bersama dia sejak kelas 2 SMA, kurasa tak akan pernah tergantikan. Kenangan itu ingin kumiliki untukku dan orang yang ditakdirkan sebagai suamiku kelak, dan aku ingin orang itu adalah “dia”. Aku merasa bahwa kenangan itu adalah kenangan terindah yang pernah dan akan kumiliki seumur hidupku, tak akan terulang maupun terganti dengan yang lain.


Sama seperti persahabatanku. Selepas SMA, saat memasuki bangku kuliah, aku tidak pernah menyangka akan menemukan persahabatan seperti yang kurasakan waktu SMA. Kukira sahabat masa SMA ku adalah yng terbaik, tak kan tergantikan oleh siapa pun yang kutemui di bangku kuliah. Aku merasa tidak akan ada yang dapat mengerti aku kecuali sahabat-sahabatku di SMA, Phoenix dan anak SMANSA Maros yang lain. Kukira selama kuliah aku hanya akan menemukan teman yang hadir lalu pergi lagi, tak kan ada sahabat dan tak kan ada kenangan yang tercipta untuk diingat di kemudian hari. Hanya saja, aku keliru, di sini, kuemukan begitu banyak sahabat, orang yang menerima aku apa adanya, dan mampu menemani proses belajarku menjadi seorang akhwat sejati.


Kini, cinta yang kurasakan pada orang itu tidak hilang bahkan semakin tumbuh hingga saat ini, saat aku memasuki tahun ketiga di bangku kuliah. Akan tetapi, cinta yang kurasakan, bukan lagi rasa ingin memiliki yang sedangkal dulu, bukan lagi sebuah pemaksaan atas takdir Allah, bahwa aku hanya menginginkan dia untuk masa depanku. Cinta yang kurasakan bukan lagi gejolak nafsu seperti dulu. Cinta yang kini kurasakan adalah kecintaan saudara kepada saudaranya. Aku mencintainya sebagai saudara seimanku, aku tidak ingin Allah memurkainya karena kedekatan kami yang melanggar syari’at.


Semua perubahan ini tidak berlangsung dalam waktu dekat dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku harus melawan hatiku yang masih sangat menginginkan dia, aku harus membiarkan pipiku terus dialiri air mata yang harus kusembunyikan dari dunia karena aku tidak ingin terlalu banyak yang menyadari betapa aku bersedih atas semua ini. Selama sekitar setahun empat bulan, hubungan kami begitu dingin, kami sempat saling menghindar, diam-diaman, pokoknya segala cara untuk melepaskan tautan yang sempat menghubungkan hati kami.


Kini, aku telah mampu mengikhaskannya. Melepasnya kembali pada Rabb seluruh alam. Tidak peduli siapa jodohku kelak, aku telah menyerahkan pada Allah untuk memilihkan untukku. Kini aku telah mampu tersenyum walaupun dia tidak lagi di sisiku sebagai orang yang mencintaiku seperti dulu. Dia tetap ada sebagai saudaraku, tidak lebih dari itu. Semoga ini menjadi perpisahan karena Allah. Mungkin kelak dia akan bertemu seorang akhwat yang jauh lebih baik dari aku yang dipihkan Allah baginya, begitu pula denganku dan masa depanku. Dan kini aku dapat tersenyum atas hal tersebut.


Kini aku telah menikmati indahnya ukhuwah tanpa embel macam-macam, tanpa digrogoti VMJ, dan aku sungguh menikmatinya. Alhamdulillah....


oleh: Nila Sartika Achmadi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

15 Agustus 2009

Kalo dihitung dari hari ini, sekitar 21 hari lagi aku insya Allah balik ke Maros. Hm... kalo aku gak balik lagi Ramadhan ini, bisa-bisa aku jadi the next Bang Toyyib, tiga kali puasa tiga kali lebaran gak pulang-pulang.


Entah mengapa Ramadhan tahun ini banyak banget hal yang membuatku begitu kangen rumah. Yah, gak bisa kupungkiri juga ada beberapa orang yang menjadi stimulus keputusanku ini. Tapi walau stimulus itu ada, dan kurasakan ada keinginan di dalam hatiku, aku tidak ingin meminta pada Ibuku untuk mengizinkanku pulang. Aku ingin pulang kalo ibuku dulu yang nawarin buat pulang. Aku takut, kalo aku minta pulang, sebenarnya ibuku gak ada uang, tapi diusahain banget-banget karena tau aku udah minta. Secara, aku itu anaknya jarang meminta sesuatu, makanya sekali minta, kadang orang tuaku mengusahakan sekuat tenaga untuk memenuhi keinginanku.


Namun, untuk Ramadhan kali ini, ibuku yang langsung meminta aku untuk pulang. Bahkan, waktu masih di Surabaya, begitu tau aku ini lagi libur, dia langsung nanya, kenapa aku belum ngusahain untuk pulang. Artinya dia udah gak sabaran pengen ketemu aku. Haha... so do I Mom. Well, Ramadhan taun lalu, aku terlanjur cerita bahwa aku jadi sekretaris panitia Ramadhan. Hm... ibuku itu gak pernah mau ngeganggu sedikitpun kegiatan kuliahku maupun organisasi di kampus. Dia kepengen aku fokus sama semua yang aku kerjain di kampus. Aku tau dia kangen banget, begitu pula aku. Tapi dia melepaskan kerinduannya dan bilang bahwa aku gak usah kepikiran pulang atau apa pun, cukup aku fokus dengan yang lagi aku jalanin sekarang. Walaupun dia kangen, rasa kangen itu dapat ditunda, beda halnya dengan pengalaman yang sedang aku rajut, pengalaman itu belum tentu muncul untuk yang kedua kalinya.


Ibuku, melepaskanku pergi ke Bandung dengan penuh pengorbanan. Selama aku masih tinggal di rumah, sejak aku lahir sampai tamat SMA, jarang banget aku nginap di luar, baik di rumah keluarga, apalagi di rumah teman. Beda dengan adik-adikku yang sering nginap di rumah nenek, aku justru lengket banget sama orang tuaku. Jangankan nginap, keluar bentar aja dari rumah—dari aku kecil sampai SMP—pasti langsung dicariin. Adik-adikku yang lain, baru dcariin kalo udah mau Maghrib belum pulang juga. Padahal, aku ini anak sulung, tapi kadang aku merasa penjagaan orang tuaku kepadaku melebihi adik-adikku.


Aku tau, baik aku maupun ibuku tidak pernah lama berjauhan. Kini, dia harus rela melepaskanku, membiarkan dirinya menanggung kerinduan, demi cita-citaku. Seperti yang pernah kukatakan bahwa bila ada orang yang paling tersiksa karena jauh dariku, maka orang itu adalah ibuku. Hanya saja, dia tetap profesional, karena jaman dia kuliah dulu, dia juga jauh dari orang tuanya. Dia sepenuhnya menyadari bila membebankan kerinduannya padaku, hanya akan membuatku kepikiran rumah sepanjang tahun dan tidak mampu fokus pada pencapaian cita-citaku. Maka dari itu, dipendamnya kerinduan pada anaknya ini hanya bagi dirinya sendiri. Sangat jarang dia mengatakan rindu padaku, padahal aku mampu mendengar dari suara dan cara bicaranya bahwa ada secercah kerinduan yang menggelayut di ujung hatinya.


Waktu SMA, akhirnya kau diizinkan untuk ikut ekskul. Izin itu kujadikan momen untuk sibuk di sekolah. Aku pernah jadi sekretaris OSIS, kadiv Penerbitan Buletin Rohis, wakil ketua di English Fans Club, wakil bendahara di Mathematic Society, anggota KIR, aku juga sempat ikut-ikut club seni di jurusan drama. Hampir setiap hari aku pulang menjelang Maghrib. Saat pulang, ibuku tidak pernah mau tau aku baru aja udah makan atau belum, pokoknya nyampe rumah, ganti baju, langsung makan, kalo nggak, ibuku akan mengklaim bahwa aku sedang sakit. Makanya, kalo ada temen yang ngajakin makan sebelum pulang, jarang kuturuti, abisnya, makan sebelum pulang, nyampe rumah langsung makan lagi. Dan... kalo aku bilang udah makan di sekolah, pasti ditanya makan apa, paling aku cuman makan bakso atau mie pangsit, atau gado-gado, dan ibuku bakal bilang, “apa tuh, bakso, gak sehat, kamu kalo tiap hari makannya bakso mulu mau jadi apa?... bla... bla... bla....”


Coba bandingkan hidupku di Bandung sebagai anak kostan. Mana ada yang mau nyiapin aku makan tiap mau makan. Padahal dulu, kalo nyampe rumah, langsung disiapin makan, kalo ibuku lagi sibuk, biasanya adekku yang bungsu yang diminta ibu buat nyiapin aku makan. But now, it’s all by myself.


Hehe... tapi, kalo aku gak ngalamin ini semua, hidup sebagai anak kost, mana mungkin aku ngerasain pusingnya ibuku mikirin menu makan sekeluarga tiap hari. Aku aja yang hanya mikirin makan buat aku sendiri udah pusing, malah kadang sampe males makan. Kalo aku tetap jadi anak yang serba disiapin segala macamnya di rumah, aku nanti gak akan bisa nyiapin segala macam keperluan rumah tangga kalo udah nikah. Mungkin itu satu dari sekian hikmah menjadi anak kost, terpisah dari rumah, dan harus berjuang sendiri. Hidup anak kost!


oleh: Nila Sartika Achmadi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Biarkanlah Berlalu

16 Agustus 2009

Pagi ini kumulai hari dengan senyuman. Aku tidak peduli lagi kesalahan yang kulakukan di masa lalu. Aku tidak akan terus menyalahkan diriku atas apa yang telah kuperbuat karena aku tak akan mampu untuk mengulang waktu dan menghindarkan diriku dari kesalahan. Yang kutau bahwa kesalahan membuatku mengetahui kebenaran. Aku sungguh tidak perlu menyesalinya, karena penyesalan hanya akan membuatku terpuruk. Aku harus bangkit dan menghadapi sisa waktuku untuk memperbaiki segalanya dan menghadapi masa depanku yang cerah.

Pagi ini, aku ingin hatiku menemukan jalan terbaik untuk kulalui. Aku telah memutuskan untuk memberi diriku kesempatan. Hanya butuh waktu untuk belajar. Aku tau, merubah sisi buruk dalam diri dan hatiku tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi hal lain yang kuketahui adalah berdikit-dikit lama-lama jadi bukit. Dengan terus berusaha, berpikir positif bahwa aku bisa, walau sedikit demi sedikit, perubahan itu akan bermuara pada kebaikan, dunia dan akhirat. Bukannya Allah menuruti persangkaan hamba-Nya? Aku percaya bahwa Allah menyediakan sebuah skenario dahsyat untuk kuperankan. Dengan skenario itu, Dia akan menguji keteguhan imanku.

Hari ini, aku melangkah lagi. Wish me luck!


oleh: Nila Sartika Achmadi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

22 Jam Terpanjang

Baru-baru ini, aku melalui 22 jam terpanjang yang pernah kurasakan. Pagi itu, semua terasa begitu tergesa-gesa. Aku dan teman-temanku yang lain harus mempersiapkan perjalanan ba’da Subuh kami dari Surabaya menuju Bandung dengan mengendarai Pregio. Sama sekali tidak ada yang buruk dengan semua itu. Hanya saja, pagi itu, kami seolah baru dimuntahkan oleh kelelahan panjang, sehingga tidak ada satu pun dari kami yang bangun Subuh tepat waktu walaupun semua alarm dibunyikan. Aku pun sama sekali tidak mendengar apa-apa, apadahal alaramku berbunyi 4.20 pagi.


Begitu bangun, aku segera wudhu. Setelah shalat Subuh dan menunggu yang lainnya menggunakan kamar mandi, sekarang giliranku. Aku tidak sempat mandi lagi, karena udah sikat gigi sebelum shalat, aku hanya cuci muka. Yah, ini memang bukan persiapan yang baik untuk menempuh perjalanan jauh. Tapi aku tau, waktunya tidak akan cukup bila 5 orang perempuan di kamar itu mandi sebelum berangkat. Aku tidak akan menceritakan siapa selain aku yag tidak mandi—aku bahkan tidak ingat lagi—tapi yang kutau, kami telat. Tidak mandi sebelum perjalanan jauh tak kulakukan tanpa persiapan. Malamnya aku udah mandi, keramas, dan segala macam, jadi gak perlu merasa hm.... Ups. It’s me!

Setelah semua penghuni kaar cewek di rombongan kami telah siap, aku mengecek anak-anak cowoknya. And guess what! Mereka belum pada siap. Hmmph... padahal tadi Subuh, saat ditelepon, mereka bilang udah siap berangkat. Well, kuakui aku ini orangnya sering ngaret, karena aku gak suka nunggu. Makanya, saat menghadapi anak-anak cowok yang telat membuatku menunggu selama 4 kali dalam 5 pertemuan, aku harus sedikit mengelus dada.

Seperti biasa, kalo mereka udah membuatku menunggu beberaoa menit di mobil, itu tandanya mereka harus kujemput. Kali ini pun aku memutuskan untuk menjemput mereka di kamarnya. Oke, suatu kemajuan, karena saat kujemput, aku gak perlu nyamperin mereka ke kamar, karena mereka udah siap di depan gedung asrama dan berjalan menuju mobil. Aku pun memutar arah dan berjalan dengan cepat—seperti biasa—dan menuju mobil.


Ngomong-ngomong soal menjemput anak-anak cowok di kamar mereka, aku pengen nyeritain satu pengalaman ter... well, aku gak tau ini pengalaman ter-apa, tapi aku senang menceritakannya.


Here we go! Pagi itu, seperti biasanya, anak-anak cewek udah rapi dan siap berangkat, sedangkan para cowok belum muncul batang hidungnya di depan bangunan asrama. Sesuatu yang kubenci dari hal ini adalah; aku dan anak-anak cewek lainnya, harus buru-buru menyiapkan semuanya, kami menjadwalkan mandi maupun menyetrika pakaian agar bisa selesai tepat waktu. Kami tidak bisa berlama-lama menikmati mandi pagi agar tidak telat. Setelah kami semua siap, cowoknya belum pada muncul. Berdasarkan pengalaman hari-hari sebelumnya, saat kami siap, mereka baru antri untuk mandi sambil baring di atas tempat tidur. Good!


Kuputuskan untuk menjemout mereka. Dalam beberapa menit, aku tiba di lantai 2, di depan kamar 222, tempat anak-anak cowok kampusku nginap. Aku mengetuk pintu dan beri salam. Beberapa kali kulakukan, tidak ada jawaban dari dalam. Mm... maaf, tapi ini terpaksa kulakukan. Asumsi umumku berkata bahwa jika tidak ada jawaban dari dalam berarti ruangan itu kosong, tapi ke mana mereka jika tidak ada di kamarnya dan juga tidak ada di mobil padahal kami harus segera berangkat. Akhirnya, aku mengintip lewat lubang kunci. I meant no harm.


Ups... seharusnya kalo mereka sudah meninggalkan kamar, lubang kuncinya kosong. Tapi kulihat kunci masih tergantung di lubang kunci. Aku menyimpulkan bahwa masih ada orang di kamar tersebut. Kuketuk kamar itu sekali lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Aku mulai penasaran. Kulihat di samping kamar itu ada jendela besar seukuran pintu. Beberapa jendelanya hanya kaca, bukan untuk dibuka-tutup. Kucek jendela terakhir yang masih tertutup gorden dan yah, terbuka. Jendela itu mengubungkan bagian depan dengan balkon belakang kamar anak-anak cowok. Kuputuskan untuk masuk lewat jendela. Ini darurat, kalau tidak, aku tidak akan melakukan hal ini, hehe....


Aku tiba di balkon mereka. Kuketuk pintunya, tetap tidak ada jawaban. Ada apa ini sebenarnya. Baiklah, mereka tidak memberi jawaban, padahal kunci masih terpasang di bagian dalam pintu depan, sedangkan di bawah, di lapangan parkir tepatnya, mobil dan semuanya sudah menunggu mereka.


Akhirnya kuputuskan untuk masuk saja, karena kebetulan pintu belakang kamar mereka tidak dikunci. Dan... ternyata, dua makhluk aneh—dua orang cowok utusan kampusku—duduk manis di tempat tidur mereka. Entah apa dan mengapa, mereka jelas-jelas mendengar ketukan pintunya sejak tadi tapi tidak satu pun dari mereka yang membukakan pintu. Di kamar itu, seharusnya juga ada mahasiswa dari kampus lain, tapi semuanya sudah berangkat, yang tersisa hanya kedua teman-temanku. What the... mmph....


Wo0keey... sekarang kita kembali pada cerita perjalanan pulang dari Surabaya menuju Bandung.


Kami meninggalkan asrama haji Surabaya sekitar hampir pukul 7 pagi, padahal kami rencana berangkat tepat setelah shalat Subuh. Saat tiba di sebuah mini market, tiba-tiba aku mules. Huhu... untung ada kamar mandinya. Thanks God.


Tiba jam makan siang, kami makan di sebuah rumah makan Padang. Mm... aku suka banget kepala ikannya. Yummy! Salah seorang temanku, ade kelas tepatnya, sangat suka mendesain sisa makanan setelah kita makan. Ini kali kedua kulihat dia bermain dengan sisa-sisa makanan. Ide mendandani sisa makanan itu cukup kreatif, tapi agak sedikit memualkan. Melihat semua tercampur aduk seperti... well, tidak perlu dideskripsikan.


Setelah makan siang, aku minum obat anti mabuk—mabuk darat. Wow, reaksinya sangat cepat. Tidak berapa lama setelah mobilnya jalan, aku telah masuk ke dunia mimpi. Entah ada kejadian apa saat aku tidur. Aku terbangun—hanya mendengar, namun belum sanggup membuka mata—saat mendengar orang-orang memanggil nama Bowo. Ada apa dengan Bowo?


Aku tidak merasakan gerakan maju mundur sebagai efek percepatan atau perlambatan mobil. Sepertinya mobil memang sedang berhenti. Semua masih terus menyebut-nyebut nama Bowo. Akhirnya kupaksakan diri untuk membuka mata walaupun sangat berat. Bowo udah gak ada—di mobil. Dia berdiri di depan pintu mobil, di sampingnya ada seorang wanita paruh baya sedang memeluknya. Bowo memanggil wanita itu Tante. Bukan... dia tidak dijemput oleh “tante”, tapi yang menjemputnya beneran tantenya, saudara dari orang tuanya. Alhamdulillah. Semua orang melepas kepergian Bowo dengan tantenya di suatu tempat di wilayah Jawa, I really didn’t know where we were. Semua orang melambaikan tangan pada Bowo kecuali aku sepertinya. Bukan... bukan karena aku benci Bowo karena dia telat mulu, atau karena dia selalu mengatai kami—mahasiswa cewek rombongan kampus—sebagai anak-anak aneh, bukan pula karena dia selalu numpang nge-charge HP di kamar kami, tapi karena aku memang udah gak punya tenaga, jangankan mau memberikan lambaian tangan perpisahan pada Bowo, buka mata pun kayaknya susah banget.


Aku kembali melanjutkan tidur. Huh, dasar, entah ini pure pengaruh obat atau karena aku memang capek, malamnya kurang tidur, kemarin siangnya jadwal padet, atau karena emang aku doyan tidur, seperti julukan yang diberikan bapakku, sang Putri Bantal dari negeri Al-Kasur.


Kali ini, saat aku terjaga, perlahan kubuka mata. Mobil telah berhenti. Semua orang yang duduk di jok di hadapanku, termasuk driver nya pun telah tiada, maksudnya tidak terlihat olehku. Entah semuanya ke mana. Aku tidak begitu tertarik untuk memikirkan di mana mereka, aku ngantuk, lalu kulanjutkan tidurku. Saat pikiranku melayang perlahan menuju perbatasan antara dunia nyata dan alam mimpi, kudengar beberapa orang dari jok belakang menyuruhku bangun karena mau lewat, dan aku sepenuhnya menghalangi jalan.


Duh, aku tidak tau untuk apa mereka keluar, tapi aku benar-benar tidak punya tenaga untuk bangun. Ngantuk berat! Kulihat di sampingku, semua orang juga udah gak ada. Awalnya aku hanya tidur dengan posisi duduk, akhirnya aku baring. Ups, ternyata semakin menghalangi jalan. Okey, aku tidak tau mereka yang kejebak macet di jok paling belakang tau kelemahanku atau tidak, tapi tiba-tiba ada yang mencolekku. Dari tadi mereka coba membangunkan, kurasakan ada yang menggoncang-goncangkan bahuku, or anywhere in my body, tapi aku tidak merasa terganggu. Hanya saja, aku benci dicolek, atau disentuh dengan ujung jari. Tindakan mereka mencolekku membuat aku teriak kencang di mobil. Mungkin seperti orang histeris, aku teriak sambil menghentak-hentakkan kaki, seolah aku ini pengendali bumi yang menghentak bumi untuk menyerang lawan.


Well, tindakan mereka cukup berhasil untuk membuat bergeser dan mebiarkan mereka keluar. Ternyata semua orang mampir di mushalla untuk shalat Dzuhur. Akhirnya kuputuskan—memang harus kulakukan—untuk turun dari mobil dan shalat Dzuhur. Saat turun, aku sempat oleng dan hamoir jatuh. Untuk ada Diah yang dengan sigap meraihku....


Hari mulai sore. Aku, Depoy, dan Anti memulai transfer-transfer foto. Dari HP Anti dan Depoy, ada sekitar 250an foto, belum dari camdi dan HP Teh Martha. Setelah transfer foto selesai, kami menyadari sesuatu. Cemilan habis, dan kami laper lagi. Oh, God! Waktu itu kami udah di Jogja. Semua sepakat untuk membeli gorengan. Lalu mata kami bertindak jeli memandang ke sebelah kiri dan mencari tukang jual gorengan. Setelah lama jelalatan, mata kami akhirnya menemukan tukang gorengan tapi sayangnya kami kurang koordinasi dengan driver. Mobil tetap melaju melewati tukang gorengan, dan dalam beberapa detik, tukang gorengannya telah terlewati cukup jauh.


Okay, kali ini driver mulai berhati-hati sampai akhirnya kami menemukan tukang gorengan berikutnya. Di mobil, ada 9 orang, dan Teh Martha membeli 50 biji gorengan untuk kami. Aku tidak tau pasti gorengannya habis atau tidak, yang jelas, aku makan lebih banyak singong goreng daripada bala-bala, padahal bala-bala is my favourite. (Penting ya?)


Perjalanan terus dilanjutkan. Adzan Maghrib berkumandang, dan diputuskan untuk mencari mesjid terdekat. Aku gak tau pasti kai mampir di pom bensin mana, yang jelas, kamar mandinya bauuu banget.... Saat di tempat wudhu, untuk akhwat, kerannya ada sekitar 4 buah. Yang 3 dari 4 keran itu tertutupi dari pandangan dunia, halah!! Depoy, tidak berjilbab, wudhu di keran nomor satu, yang terlihat dari luar. Saat aku sedang memakai jilbab, tiba-tiba salah teman-temanku yang berjilbab pada teriak. Ternyata ada seorang cowok yang ngira temptat itu tempat wudhu cowok dan NYARIS melihat temen-temenku yang berjilbab lagi wudhu. Menurut teori Depoy, mungkin dari belakang Depoy terlihat kayak cowok, makanya si cowok yang tadi ngira itu tempat wudhu cowok.


Perjalanan terus berlanjut. Kami makan malam sekitar setengah dua belas malam. Wow, untung tidak ada yang sedang terikat program diet. Dalam perjalanan ini, kami kerjaannya makan lalu tidur di mobil. But we enjoyed this, anyway. Hoho.....


Kami mampir di rumah makan Pringsewu kalo gak salah. Hal yang kusuka dari tempat itu, karena sembari menghidangkan makanan, seorang pegawai akan memperlihatkan kami sebuah sulap kartu. Otomatis semua mata menuju padanya. Apalagi kali ini, Anti dan Depoy yang duduk di ujung meja yang berbeda dengan tempat pegawai itu berdiri sampai harus nyamperin si pegawai biar bisa melihat trik magic dari dekat. Saat sulap plus triknya selesai dipaparkan oleh si pegawai, kami pasti dihadiahi kartu sulap, setelah fokus kami kembali ke meja maka, semua makanan telah terhidang. Jadi, kami tidak perlu repot-repot melihat pelayang menghidangkan makanan di meja panjang untuk kami karena kami fokus nonton sulap. Tepat setelah sulap selesai it’s like a magic, makanan pun telah siap. Seneng dech!!!


Salah seorang temanku, adik kelas, memesan es jeruk. Dia mengeluh, kok, es jeruknya asem. Entah itu pengaruh ngantuk atau kecapean di mobil, dia lupa ngaduk es jeruknya, sedangkan gula cair dari es itu masih utuh di bagian bawah. Setelah diaduk, es jeruknya masih rada asem. Ya iyalah. Jeruk nipis yang dipasang di ujung gelas, ikut jatuh ke jusnya. Sepertinya temanku yang satu itu memang lagi bermasalah dengan es jeruk. Tidak ada sendok untuk mengeluarkan jeruk nipis dari es jeruk, akhirnya kusuruh dia mengambilya dengan tangan, toh, jeruknya mengapung. Setelah itu, aku bilang ke dia untuk menghisap jeruk nipisnya, dan auw... alisnya mengernyit dan matanya berkedip, ekspresi kekecutan. Semua orang di meja kami tertawa melihat tingkahnya, saat dia mengeluh jeruk nipisnya kecut. Maaf. Aku gak bermaksud membuat hidupnya bersama es jeruk semakin tertekan, tapi aku cuman bercanda. Aku gak tau ada orang yang mau mengikuti saranku untuk mengisap jeruk nipis padahal dia dari awal mengeluh tentang rasa kecut. I’m sorry.


Perjalanan berlanjut, kami tiba di Banjar. Aku tidak tau pasti Banjar itu di mana, tapi salah seorang temanku harus turun di tempat ini. Sebenarnya aku itu orang yang tidak terlalu peduli hal-hal detail (pada kondisi umum), makanya kalo di perjalanan, aku kadang gak tau dari mana lewat mana dan sedang di mana, yang jelas kutau bahwa aku pasti sampai di tempat tujuan.


Entah sekitar jam berapa, yang jelas udah hampir Subuh, aku bangun. Kubalas sms yang ada sejak sekitar sejam yang lalu. Iseng aku menengadah langit. Ada bulan di sana. Tapi aku tak tau kenapa, bulan malam itu bukan bulan yang bisa kunikmati keindahannya, seperti biasa aku saat melihat bulan. Bulan itu putih, tapi ada awan hitam yang terus berjalan menutupinya perlahan, lalu menampakkannya lagi. Rada horor ngeliatnya.


Aku tiba di kostan Eel—karena aku memutuskan untuk ngetem dulu di tempat Eel sebelum pulang—sekitar pukul 5 subuh 13 Agustus 09. Kemarin, kami berangkat pukul 7 pagi 12 Agustus 09. Sekitar 22-23 jam perjalanan terpanjang yang pernah kurasakan.


oleh: Nila Sartika Achmadi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Semi dan Final PMDC '09

Ini pertama kalinya kau memperoleh pengalaman seperti ini. Hari itu, aku dan tim debat IM Telkom harus persentasi makalah untuk semi final PMDC 2009 (Perbanas Marketing Debate Championship 2009). Bukan lolos semi finalnya yag menjadi pengalaman pertamaku, tapi apa yang sedang kurasakan.


Saat terbangun tadi Subuh, aku mendapati, temanku Nisa, badannya demam. Padahal yang mendapat tugas presentasi makalah adalah aku dan Nisa. Mungkin saja aku membatalkan Nisa ikut presentasi, dan kutangani sendiri, tapi poin kerja sama kami akan rendah. Aku nanya Nisa bisa presentasi atau gak, katanya sih, bisa. Aku gak mau maksain dia untuk presentasi, aku gak mau mengeksploitasi teman sendiri hanya demi kemenangan, lagian gak mungkin aku maksain dia presentasi, trus tiba-tiba pingan di panggung. Waktu itu aku udah parno sejauh itu.


Sebenarnya, bukan hanya Nisa yang sakit pagi itu. Aku pun sedang gak enak badan. Punggung sampai betisku mengalami ngilu-ngilu gak jelas, pegel, dan kayak mau patah. Biasanya sih, ini adalah gejala seperti ini adalah warning bahwa aku bakalan demam. Ya Allah, aku takut banget, tapi aku gak mau bilang atau ngeluh apa pun ke siapa pun, aku gak mau orang-orang juga ikut khawatir ke aku, dan untuk menguatkan Nisa, aku harus kuat dulu.

Saat di bus menuju Perbanas, aku nelpon ibuku. Entah mengapa, ada rasa haru yang menghujam hatiku. Biasa lah, ya, kalo lagi sakit, mode Melankolisnya pasti on. Aku hanya bisa menyebutkan satu kalimat, agar ibuku mendoakan yang terbaik untuk aku dan timku. Ibuku bilang, tanpa kuminta dia akan selalu mendoakanku. Aku sebenarnya kepengen cerita kalo aku lagi gak enak badan, bla... bla... bla... tapi kuurungkan niatku, mataku keburu basah karena nangis. Mendengar suara ibuku, kantong air mataku langsung bocor, sekali aku ngeluarin kalimat baru, pasti ketahuan bahwa aku nangis. Aku gak mau bikin ibuku khawatir. Well, sampai sekarang, aku masih bisa tahan untuk gak cerita ke siapa pun, dan aku harus bisa tetap terlihat kuat. aku perlu menjadi kuat untuk dapat menguatkan.


Aku dan rombongan IM Telkom, juga panitia PMDC ’09 ngusahain obat buat Nisa. Akhirnya diputuskan untuk mengurangi persentasi Nisa, dan dialihkan ke aku. Saat maju persentasi, aku bersyukur Nisa gak terlihat seperti orang sakit, setidaknya dari cara persentasinya (mungkin hanya terlihat dari wajahnya yang pucat). Saat presentasi semi final, aku sempat ragu, soalnya waktunya gak cukup, dan aku harus ngomong kayak pembalap dan melakukan skip-skip di beberapa tempat. Untungnya kami tertolong oleh sesi tanya jawab. Adit, anggota tim kami yang tidak ikut presentasi, mendominasi sesi tanya jawab, lalu sisanya dilengkapi oleh aku dan Nisa.


Aku ingat pesan Bu Ine, pendamping tim IM Telkom, bahwa aku sebaiknya menjawab dengan Bahasa Inggris kalo ada juri yang nanya pake Bahasa Inggris. Kebetulan, salah seorang jurinya nanya pake Bahasa Inggris, dan aku bilang ke Adit kalo aku pengen jawab pertayaan itu. Akhirnya aku menjawab dengan Bahasa Inggris.


Saat kami persentasi di panggung, Bu Ine sibuk promosi di bangku penonton. Aku ingat bagian yang dia ceritakan pada panitia PMDC ’09 tentang aku. Ibu bilang bahwa aku ini cewek paling aneh karena suka ngomong sendiri di depan cermin, haha... asal tau saja, aku memang doyan ngomong di depan cermin, pura-puranya aku lagi debat Bahasa Inggris, atau lagi speech. Biasanya sih, di depan cermin itu, aku mencari kalimat “penghasut” plus gaya yang cocok untuk membawakannya agar juri bisa yakin pada timku. Menurut Bu Ine, kebiasaan anehku itu membuatku mengerti manner public speaking.


Satu lagi yang Ibu ceritakan tentang aku. Melihat katanya aku lancar ngomong pake Bahasa Inggris, dia malah bilang bahwa kalo ngeliat lidahku yang lancar ngomong Bahasa Inggris, itu sangat bertolak belakang dengan selera lidahku dalam memilih makanan. Walau lidahku lancar ngomong bule’, tapi seleranya tetep, ikan asin. Mm... aku jadi ingat suatu saat waktu aku sakit di rumah, aku kehilangan selera makan, gak pengen makan apa pun. Ibuku akhirnya nanya aku mau makan apa, biar dibikinin. Aku gak kepengen makan apa pun kecuali ikan asin tumis asam buatan ibuku dengan kuah yang buaanyaak banget. Ikan asin... oh... ikan asin....


Setelah presentasi semi final, akhirnya aku bilang bahwa sebenarnya punggungku lagi sakit banget. Aku pun gak makan siang, aku cuman makan kerupuk dari dus makananku, dan makanan Adit kalo gak salah. Setelah Adit makan, aku dan dia jalan ke Mesjid. Akhirnya aku bisa nyeritain semuanya ke Adit. Aku bilang, aku udah gak sanggup berdiri lagi, punggungku sakit banget.


Allah memberi kami kemudahan untuk tampil presentasi dengan kondisi dua dari tiga orang anggota tim kami sedang tidak fit. Dan, subhanallah, pada posisi itu, hasil presentasi semi final menempatkan kami di peringkat tertinggi.


Menjelang final, aku akhirnya jujur pada ibuku bahwa aku sedang sakit dan aku ingin dia meneleponku. Aku meninggalkan ruangan dan duduk di tangga sendirian sambil ngobrol dengan ibuku. Aku menangis tersedu-sedu di HP. Entah kapan terakhir kutemukan diriku menangis di hadapan ibuku, menangis dengan penuh sedu sedan, tanpa harus ada yang kutahan. Aku selama ini, selama aku mulai dewasa, tidak ingin tampak menangis di hadapan ibuku. Bahkan, saat pertama kali dia meninggalkan ku untuk menjadi anak kostan di Bnadung, aku tidak menangis di hadapannya. Aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku. Tapi sore itu, kutemukan kembali sebuah kenyataan bahwa ibuku seorang yang kuat. Dia mendengarkan seluruh keluhanku, bahkan tetap tenang walau aku berlumur air mata.


Ibuku berpesan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah. Aku sama sekali belum pernah mengalami kondisi seperti ini. Aku sakit saat semi final dan final debat. Ini adalah cara Allah memastikan bahwa aku tetap berpegang teguh pada-Nya di saat seperti ini. Saat aku bahkan harus shalat duduk karena kakiku gemetaran saat lama berdiri, the show must go on. Aku tetap harus berdebat di final, dan tidak mungkin aku berdebat sambil duduk. Ketika aku dihadapkan pada berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan kakiku tiba-tiba tak bisa menopang badanku saat berdiri dalam final debat, ibuku meyakinkan bahwa harapan itu masih ada. Aku tidak perlu takut akan kegagalan, karena ada Allah yang akan menjaminku. Hal yang perlu kutakutkan adalah, Allah murka padaku dan melepaskan pertolongannya untukku. Bila Allah di pihakku, siapa dan apa lagi yang harsu kutakutkan, tapi bila Allah berpaling dariku, maka kepada siapa lagi aku akan berlindung dan memohon pertolongan? Ibuku mengingatkanku kalimat itu. Kalimat itu yang selalu kugunakan sejak SMA dalam semua pertandingan yang kuikuti, dan aku selalu berpegang teguh pada hal tersebut. Maka dari itu, hal yang perlu kulakukan adalah menyerahkan diriku seutuhnya pada Allah dan memaksimalkan usaha dan doaku.


Pernah saat lomba debat di SMA, karena pernyataan juri yang mengatakan bahwa pernyataanku tidak disertai bukti yang kuat. Karena hal itu, kukira aku akan kalah dan bahkan tidak akan lolos 24 besar dalam pencarian debater terbaik se-Sulawesi Selatan. Aku sangat kecewa waktu itu. Aku menelepon ibuku dan hanya bisa berbicara beberapa kata, lalu aku diam karena menangis. Sorenya, ibuku menjengukku di asrama tempat semua peserta menginap. Dia menenangkanku bahwa Allah sedang merencanakan sebuah skenarion terbaik.


Dalam masa menanti pengumuman hasil penilaian juri, aku memang tampak tak punya harapan lagi. Di depan semua orang, bahkan guru pembimbingku, aku telah memohon maaf atas kegagalanku. Tapi, hati, pikiran, dan doaku teap menggantungkan harapan pada Allah. Aku yakin bahwa sebelum pengumuman, sebelum kedengar langsung bahwa diriku gagal, aku tidak akan menyatakan kegagalan, khususnya dalam doaku. Aku tetap berdoa pada Allah, kuserahkan diriku seutuhnya pada Dia. Dan, ternyata aku terlalu keras menghadapi diri sendiri. Saat pengumuman 24 besar, aku alhamdulillah lolos. Bahkan, temanku yang awalnya yakin lolos, justru namanya tidak ada dalam pengumuman. Semua berlangsung bagai keajaiban, dan aku percaya ini terjadi karena aku yakin pada Allah, dan Dia menuruti persangkaan hamba-Nya. Bukan hanya gelar 24 besar yang Allah berikan padaku, aku bahkan lolos sampai babak final. Subhanallah, dan aku dinobatkan sebagai 6 besar debater terbaik se Sulawesi Selatan.


Kembali ke PMDC ’09. Kami akhirnya dinobatkan sebagai juara II, well, ada yang bilang, juara itu hanya sebutan untuk dia yang meraih gelar terbaik, juara hanya ada untuk Juara I, sedangkan untuk yang ke II dan seterusnya, hanya ada sebutan peringkat. I appreciate people’s opinion, but in my mind... gelar juara ada bagi semua orang yang merasa dirinya seorang juara. Apalagi, di plakan piala dan medali yang kuperoleh, tidak ada tulisan peringkat II, yang ada hanya juara II.


Allah mencintai dengan cara-Nya. Kadang mugnkin ini di luar logika manusia, tapi Allah sang pembuat skenario terbaik. Manusia banyak mengeluh dan tidak mengerti karena akal yang Allah berikan, tidak sebanding dengan Kemahatahuan sang Pemberi akal. Subhanallah....


oleh: Nila Sartika Achmadi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

WaRNa

Oleh: Nila Sartika Achmadi

Aku suka warna pink. Waktu kecil dulu, aku selalu ingin mengatakan bahwa warna pink yang terbaik. Tapi, semakin lama aku menyadari bahwa warna yang monoton samasekali tidak indah.
Aku suka pelangi. Mejikuhibiniu (merahjinggakuninghijaubirunilaungu).

Merah
Kata merah mengingatkanku pada map merah. Aku pernah kehilangannya sekali. Saat kutemukan kembali, aku berjanji tidak ingin kehilangannya lagi. Map itu berisi perjalanan prestasiku sejak SMA. Bukti nyata di atas kertas atas perjuanganku. Tak kan terganti.

Jingga
Aku suka jingga matahari sore. Bulat dan begitu mencolok. Ada ketenangan yang bersanding bersamanya. Ada pula haru yang terselip di balik tatapan anggunnya. Kedua rasa itu mengalir pelan memasuki hatiku melalui tangga yang terjalin dari sepasang mataku yang berakhir tepat di hatiku.

Aku suka jingga pada purnama. Jingga rembulan yang tak semua orang menyadari keberadaannya, namun telah membuatku jatuh hati. Pertama aku melihatnya, kulihat rembulan itu tanpa kacamataku. Aku meraba rupanya yang menawanku dalam samar. Namun, semakin kukenal dia, semakin tak kutemukan alasanku mengaguminya, karena aku mencintainya tanpa satu pun alasan pasti. Hal paling pasti yang kutemukan dalam diriku bahwa aku kagum pada rembulan jingga, juga pada keagungan Penciptanya.

Kuning
Ada segudang kenangan dalam warna itu. Kenangan masa SMA saat aku berseragam kuning—rok kuning kotak-kotak dengan lipit-lipit yang membuatnya menjadi sangat lebar. Saat naik tangga, rok itu harus kuangkat, sedangkan saat turun, rok itu akan menyapu tangga. Bukan... bukan adegan layaknya putri mahkota yang memakai gaun dan sedang berjalan di tangga itu yang membuatku seragam kuning. Banyak kenangan saat SMA yang melangkah seiring ayunannya. Melihatnya, seolah membawaku kembali pada sejuta cinta yang tersemat di SMANSA Maros. Tiga tahun untuk selamanya.

Hijau
Katanya, hijau itu warna surga. Kesanku tentang hijau di bumi adalah: fresh. Menyegarkan mata. Waktu kecil, aku pernah kepengen hidup di dunia Teletubbies. Padang rumputnya hijau dengan hidup yang tak kompleks, namun bahagia.

Aku suka hijau sawah dan pepohonan di tepi jalan menuju Bantimurung (air terjun di Maros). Aku juga suka hijau daun-daunan dari pohon rindang di sebuah kantor seberang jalan rujab bupati Maros. Pemandangan yang kulalui tiap hari dan mengantarku menuju SMANSA Maros. Aku pun senang melihat hijau pohon-pohon kecil di taman depan ruang kepsek dan wakasek SMANSA Maros. Serumpun kenangan berdendang bersama semilir angin yang menggoyangkan dedaunan. Kursi panjang samping ruang guru yang menghadap langsung ke taman itu menjadi saksi tanpa kata atas segala cinta yang pernah kurasakan dan terus terjaga di sebuah tempat di hatiku.

Biru
Aku suka laut dan pantai. Saat berada di pantai, aku melihat warna biru terbentang luas di depan mataku bertemu warna biru lainnya yang membentang jalan di atasku, di atas bumi, di atas pantai. Melihat birunya air laut dan mendengar deburan ombak yang menyapa pantai, seolah risauku terangkat, dibawa oleh angin yang menggerakkan air di lautan.

Namun, terkadang aku lebih menikmati pantai di malam hari, warnanya biru tua. Kuakui biru muda laut di siang hari lebih indah. Tapi, sesekali aku merasa biru muda itu keindahan semu. Indah, namun bukan milikku. Ada banyak orang yang bermain di pantai biru muda, menghalangi mataku menikmati sepenuhnya dan mencegah hatiku memiliki seutuhnya. Berbeda dengan pantai biru tua di malam hari, kadang tak kutemukan banyak orang atau tidak ada sama sekali. Sifat possesive yang sering mendominasi hatiku mencintai suasana ini, biru tua milikku.

Nila
Namaku Nila. Saat SD di kelas IPA, aku baru tau bahwa nila adalah salah satu warna pelangi. Aku seneng banget. Sebelumnya, aku dan teman-temanku hanya tau nila dari peribahasa “setetes nila rusak susu sebelanga”. Kukira nila it adalah racun, ternyata pewarna. Heee... aku keluar dari paradigma nila adalah racun dan masuk pada dunia yang menyatakan bahwa nila adalah bagian dari pelangi. Kebahagiaanku semakin membuncah saat membaca text book Bahasa Indonesiayang emuat cerita tentang asal muasal pelangi yang dulunya merupakan putri-putri raja. Di antaranya ada Dewi Nila yang selalu muncul saat ada pelangi.

Ungu
Ada yang bilang bahwa ungu itu warna janda. Mm... aku yang bahkan belum menikah, suka warna ungu. Ungu terkadang mirip pink. Aku tidak bisa bercerita banyak karena kesukaanku pada warna ungu berawal dari kecintaanku pada warna pink.
O ya, aku juga suka band Ungu.

“baiknya ku pergi... tinggalkan dirimu... sejauh mungkin... untuk melupakan... dirimu yang slalu... tak pedulikanku....”

“maafkan aku... menduakan cintamu... berat rasa hatiku tinggalkan dirinya....”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS