Berbicara di depan umum sering menjadi kendala bagi sebagian orang. Banyak orang yang pandai, tekun membaca, namun tetap tidak memiliki rasa percaya diri untuk tampil di depan umum. Masalahnya? Mungkin sederhana, namun kompleks. Saya katakan sederhana, karena hampir dapat diungkapkan dengan satu frase "tidak PD", sedangkan kompleks karena walaupun seseorang mengetahui penyebabnya, susah untuk serta merta mengatasinya. Mau tau bagaimana cara mengatasinya??
Public Speaking Tips
A Litle Gift for My Parents
Today is the day that I've been waiting for since four years ago. It is the graduation.
Hari ini berbeda dengan hari-hari lain dalam empat tahun terakhirku. Masih teringat masa-masa awal kuliah. Berkenalan dengan orang baru, kampus baru, dan yang paling penting, beradaptasi dengan dunia baru, dunia tanpa orang-orang yang biasanya beraktivias denganku. I got homesick at first, and many times after that. Waktu berlalu tanpa terasa.
Sidang pukul 11.00, aku masih belum siap-siap pukul 10.00. Kemarin sebenarnya pengen nyetrika baju pas malem buat dipake hari ini, tapi karena selesai ngerjain presentasinya udah tengah malam, males lagi buat nyetrika. Pas aku ngeluarin blazer sama kemeja krem, Inna--my roommate--langsung bilang kalo kita harus pake kemeja putih rok item. Well, roknya udah item tapi kemejanya, jilbabnya, gak item putih. Sebenarnya aku punya beberapa kemeja putih, tapi belum pada dicuci. Hoalaaah...
"Na, kemeja putih kamu ada ga?" aku dengan sedikit panik.
"ada, tapi masih di laundry."
Aku nelpon Kang Chandra buat nanya tentang baju, tapi gak diangkat. Okay, jangan putus asa. Aku nelpon Teh Kun, akhirnya dia bilang, gak apa-apa, yang penting rapi. Sepanjang Teh Kun ngomong, ada suara cewek di belakangnya, berisik aja. Katanya, pake baju apa aja, yang penting pake baju, bla... bla... bla.... Aku gak kenal suaranya. Annoying but it's okay.
Berangkaaaat....
Sampai di kampus, Teh Metha masih ujian di R6, aku setelahnya. Di sekitar R6, ada tim pendukungnya Teh Metha. Akhirnya aku tau, the annoying voice is Teh Rahmi :D.
Cukup lama juga nungguin Teh Metha selese. Di luar, aku bentar-bentar bengong, bentar-bentar menghela nafas panjang. Iya, aku memang tegang, tapi gak ada masalah. Ketegangan itu punya sensasi sendiri. Tidak akan berlangsung lama, you must feel it while it lasts.
Presentasinya menyenangkan--walau cukup menegangkan. Aku suka proses tanya jawabnya, well, I basically like public speaking.
Saat pembacaan yudisium, aku dinyatakan dapat B+, lulus IM Telkom dengan predikat sangat memuaskan dan resmi menjadi Nila Sartika Achmadi, SMB.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Terima kasih untuk semuanya. Thank you for Mom, for your hard work that makes everything possible. Thank you for Dad. You'll never be here to see me graduate, but you are the first person I want to talk to about this. I'll always remember how your spirit, how you had faith in me. You always had your big dreams for me. You said that you didn't need to finish bachelor degree, you just hope that your children do. And here's the gift for you. This title behind your name. Nila Sartika Achmadi, SMB.
^_^
Just A Morning Revelation
Don't you do this... do this instead... bla... bla...
May be you, guys know who the person(s) that may talk to you like that. They could be your boy friend, your best friends, your secret enemies, or your parents. Right now somehow I wanna talk about the last person, parent, Mom.
Last night before falling asleep, I was just upset to my Mom. I'm not gonna tell the detail, but the part I didn't like is when she was nag and said that nobody cares about her. It was not a long sentence and not suppose to make upset, but I was. And as always, I never said a word even if I thought she was wrong, I didn't wanna insult her, even if I felt that I was completely right.
I thought I was guilty for doing nothing. But that made me guilty indeed. It was not me who committed "the crime", but I should be a part of a preventive action. I kept saying that just being me was enough for her, but it wasn't. I did the best to make her proud, it was good, but not the best. I should be with her to educate my siblings, which I thought was not really my responsibility. I educated them, but apparently not well enough.
However, raising children, teenagers, is not easy, especially if you do it alone. But she does survive. May be she was not trying to blame me like I assumed, she's just trying to say that she was exhausted doing it all alone.
I am a kind of person who's not easily say "I love you" to my parents. It's even more difficult to say it in Bahasa, I don't know why. I just want her to know that I'm here also trying my best. It's not that I don't care, I just don't know how to show it. Being a good obedient girl was enough, but now I need to be a good sister to be a better daughter.
On the Bed,
February 5th 2011
09.52 am
Wanita Dewasa vs Wanita Manja
![]()
Wanita dewasa...
tersenyum walau itu sakit, lantaran tak ingin membuat orang lain gundah.
Wanita manja...
mengeluh walau sakitnya tak seberapa, agar orang lain tau bahwa dia butuh diperhatikan.
Wanita dewasa...
melihat musuh sebagai pemanis perjuangan, agar kelak dapat dikenang perjuangan itu tak pernah mulus.
Wanita manja...
melihat musuh sebagai debu yang mesti disingkirkan, agar kelak dapat dikenang betapa tangguh saat dia berjuang.
Wanita dewasa...
menawarkan bahunya untuk menangis walau bahu itu pun memiliki beban berat untuk dirinya.
Wanita manja...
tertunduk tanpa kata, menghela nafas panjang dan bergumam dalam hati, "bebanmu belum seberapa".
Wanita dewasa...
menjelaskan dengan logika dan menuturkan penuh perasaan alasan dia meminta sesuatu, meluluhkan dengan keanggunan.
Wanita manja...
merengek dan memelas bila meminta, meluluhkan dengan tatapan mata dan wajah yang penuh damba.
Wanita dewasa...
memberikan nasehat bijak bila kau gundah.
Wanita manja...
menceritakan lelucon agar kau dapat sejenak melupakan kegundahanmu.
Wanita dewasa...
mengetahui kapan dan kepada siapa dapat bermanja.
Wanita manja...
mengetahui kapan pun dan siapa pun dapat dijadikan tempat bermanja.
Nila Sartika Achmadi
Renungan pertambahan usia.
13 Januari 2010
I Miss Home

"I do miss home...."
No place's better that home. I never regret my decision to leave home and get education so far from home. It's not only the distance, but the high cost too. Hm... I can't deny that the high transportation cost to my hometown makes me rather difficult to go home. It's not because I can't afford the money (I can't because I have no income, but it's not the reason) but because I feel bad to my mom. Every time I ask for money, I don't want her to work harder in order to give me that money. She already works hard. However, mom is mom. She never wants me to stay here in a long holiday and become a lonely loner alone.
See the bright side. Being so far from home makes me a bit more independent. I admit that. Yayaya... I know that some people said that I'm so a mama's daughter since I hardly can do house keeping and bla bla bla. May be they just do not know how much I've improved. But still, there are many holes to fulfill just to call me a good woman--for a good woman here must do house jobs.
19 days to go....
Insya Allah I'll be back on August 30th. Yah, about 19 days later. I can't wait to see my family, my friends, my hi school teachers and do many things with them. Spending Ramadhan at home honestly makes me feel much better. One of the reasons is being with mom is such a great thing. Tell me about that.
I'll tell you one secret reason why I'm so excited about this holiday. It's my plan to discuss, I mean negotiate something with mom. I can't tell you what, I just want you to know that I have something to say to her.
Now let's try to focus on what I'm doing here, then prepare my self--and my baggage--to be home ASAP. good luck, everybody....
Pra Nikah 2: Manajemen Pra Nikah
- Hak dan kewajiban suami istri
- Pendidikan. Ilmu mendidik suami / istri dan anak-anak
- Kesehatan
- Hukum, etik, pernik pernikahan dan kerumahtanggaan
- Saat menerima pasangan apa adanya
- Saat bertanya dan menegur pasangannya
- Saat mencari rizki yang halal
- Saat mendapat ujian berat dari Allah
- Saat berada di kebuntuan gua yang gelap
- Tanyakan pada diri kita apakah kita rela bila jodoh belum datang.
- Apakah kita rela bila jodoh tidak sesempurna yang diharapkan
- Apakah kita rela bila orang tua tidak merelakan
Sosial
PRIORITAS ILMU ATAS AMAL
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya....." (Q.S. Al-Israa'; 17:36)
Ilmu yang pertama kali mesti dikuasai adalah ilmu tauhid, sebagaimana firman Allah :
"Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu ........" (Q.S. Muhammad; 47:19)
Oleh karena itu Rasulullah saw pertama-tama memerintahkan umatnya untuk menguasai ilmu tahuid baru kemudian memohonkan ampunan yang merupakan amal perbuatan. Jadi, umat muslim mesti memiliki ilmu pengetahuan tentang tauhid sebelum memohon ampun. Memiliki pengetahuan tentang kebesaran Allah sebelum beribadah kepada-Nya. Sesungguhnya ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah dan kemudian mendorong manusia kepada amal perbuatan. Apabila seorang muslim sudah mengenal dan paham tentang agamanya, maka dia akan beramal dan tidak hanya sekedar beramal.... tetapi amalan yang dilakukan dengan baik..!!
Dalil lainnya adalah dalil tentang perintah berjihad
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Q.S. At-Taubah; 9:41)
Berjihad , baik itu dengan harta maupun jiwa, adalah hal yang baik jika mengetahuinya. Jika kita memiliki ilmunya.
Dalil yang menunjukkan kebenaran tindakan kita mendahulukan ilmu atas amal ialah bahwa ayat yang diturunkan pertama kali adalah : "Bacalah", baru kemudian diturunkan ayat yang berhubungan dengan kerja yaitu surat al-Muddatstsir
1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. Bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. Dan Tuhanmu agungkanlah!
4. Dan pakaianmu bersihkanlah,
5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, (Q.S. Al-Muddatstsir; 74:1-5)
Kita pun mengetahui kunci ilmu pengetahuan adalah membaca, dan dari sejarah diturunkannya surat Al-Alaq baru kemudian Al-Muddatstsir tersebut maka sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan. Ilmu pengetahuan mampu membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, mana yang halal dan haram, mana yang wajib dan sunah, mana akhlak terpuji dan yang bukan. Oleh karena itu, tanpa ilmu pengetahuan maka kita akan kehilangan arah dan melakukan tindakan yang tidak karuan.
Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz: "Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu, maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki."
Hal sehari-hari yang mungkin ada adalah berpuasa siang hingga malam, atau sholat Subuh agar terlihat lebih baik maka dilakukan 4 rakaat ??
Keadaan seperti ini tampak jelas pada sebagian kaum muslimin yang tidak kurang semangat beragamanya, keikhlasannya dan juga ketakwaannya, tetapi mereka tidak membekali diri dengan ilmu pengetahuan, dan pemahaman yang benar.
Seperti itulah keadaan kaum Khawarij yang memerangi Ali bin Abu Thalib r.a. Kaum Khawarij menghalalkan darahnya dan darah kaum Muslimin yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka, kaum Khawarij, merupakan kelanjutan dari orang-orang yang pernah menentang pembagian harta rampasan perang yang dilakukan Rasulullah saw. Mereka menentang karena pembagian harta lebih banyak kepada orang-orang yang baru masuk Islam daripada yang telah lama masuk Islam. Mereka berkata dengan kasar : "Berbuat adillah engkau ini!" Maka Rasul bersabda, "Celaka engkau! Siapa lagi yang adil apabila aku tidak bertindak adil.Kalau aku tidak adil, maka engkau akan sia-sia dan merugi."
Orang yang mengucapkan perkataan itu sama sekali tidak memahami siasat Rasulullah untuk melunakkan hati orang-orang yang baru masuk Islam dengan memberikan bagian harta yang lebih banyak. Allah SWT memberikan hak kepada Rasulullah untuk mengatur shodaqoh yang diberikan oleh kaum muslimin, begitu juga dengan harta rampasan perang.
Sesungguhnya kesalahan fatal yang dilakukan oleh mereka bukanlah terletak pada perasaan dan niat mereka, tetapi lebih berada pada akal pikiran dan pemahaman mereka.
Oleh karena itu niat yang benar dan semangat yang tinggi tidaklah cukup untuk memperbaiki, tetapi diperlukan juga ilmunya, agar apa-apa yang kita lakukan sesuai dengan tujuan awalnya yaitu memperbaik. Tidak lupa juga hal yang sebaliknya yaitu janganlah merasa cukup hanya dengan memiliki ilmu, tetapi juga dibutuhkan tindakan-tindakan dan amalan-amalan nyata setelah berilmu.
Amal tanpa ilmu, buta.... Ilmu tanpa amal, pincang...
Wallahu'alam bishshawab. Yang benar datangnya dari Allah sedangkan hal-hal yang salah datangnya dari saya pribadi. Mohon maaf atas segala kesalahan. Diakhir kesempatan ini marilah kita berdoa agar kita menjadi orang yang dapat berkontribusi terhadap perbaikan, menjadi orang yang berilmu dengan amalan-amalan nyata.
Kita memohon kepada Allah kita bersatu padu dalam beramal dan tidak tercerai berai.
ILMU AMALIAH DAN AMAL ILMIAH
Singkatnya, ilmu harus aplikatif. Pengetahuan yang kita peroleh harus aplikatif. Benar ya, ilmu itu harus aplikatif. Ilmu harus amaliah. Sebaliknya, beribu-ribu amal yang kita lakukan tidak akan berbuah apa-apa melainkan kelelahan. Apa maksudnya? 'Amal yang dalam bahasa Indonesia berarti perbuatan, tidak hanya mengerahkan segenap jiwa raga dan otot, namun akal pun berperan. Sufyan Ats-Tsauri berkata : "Ilmu itu dipelajari agar dengannya seseorang bisa bertakwa kepada Allah" (Al-Hilyah : 6/362). Maka tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk beramal dengannya dan bersungguh-sunggguh dalam menerapkannya. Dan ini terdapat pada orang-orang yang berakal, yang dikehendaki Allah Ta'ala bagi mereka kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abi Barzah Al Aslami, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamKedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, tentang ilmunya dalam hal apa ia kerjakan dengannya, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya dalam hal apa ia gunakan". Dalam riwayat Thabrani dan Al-Bazzar dengan lafadz : "... dan tentang ilmunya apa yang diamalkannya dari ilmu tersebut".bersabda : " Abu Darda radhiyallohu anhu berkata : "Engkau tidak akan menjadi alim sampai engkau berilmu, dan engkau dengan ilmu tadi tidak akan menjadi alim sampai engkau mengamalkannya". Abu Darda radhiyallohu anhu juga berkata : "Sesungguhnya hal pertama yang akan ditanyakan Robbku di hari kiamat yang paling aku takuti adalah tatkala Dia berkata : ‘Engkau telah berilmu, maka apa yang telah kamu amalkan dari ilmumu itu?". Abu Hurairoh radhiyallohu anhu berkata : "Perumpamaan ilmu yang tidak diamalkan bagaikan harta simpanan yang tidak dinfakkan di jalan Alloh Ta'ala". Az-Zuhri berkata : "Orang-orang tidak akan menerima ucapan seorang alim yang tidak beramal, dan tidak pula orang beramal yang tidak berilmu". Abu Qilabah berkata : "Jika Alloh menjadikanmu berilmu maka jadikanlah ilmu itu sebagai ibadah kepada Alloh, dan janganlah kamu hanya berorientasi untuk menyampaikannya kepada orang lain (tanpa mengamalkannya)". Abdullah bin Al Mu'taz berkata : "Ilmu seorang munafiq pada lidahnya, sedang ilmu seorang mukmin pada amalannya". Amal adalah pendorong untuk tetap menjaga dan memperkokoh ilmu dalam sanubari para penuntut ilmu, dan ketiadaan amal merupakan pendorong hilangnya ilmu dan mewariskan kelupaan. Asy Sya'bi berkata : "Kami dahulu meminta bantuan dalam mencari hadits dengan berpuasa, dan kami dahulu meminta bantuan untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya". As Sulamiy berkata : "Telah memberi kabar kepada kami dari orang-orang yang mengajari Al-Qur'an kepada kami, bahwa mereka (para shahabat Nabi) dahulu belajar Al-Qur'an dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam dimana mereka apabila mempelajari sepuluh ayat mereka tidak akan beranjak ke ayat berikutnya sampai mereka mengamalkan kandungannya". Sesungguhnya orang yang bodoh kelak di hari kiamat akan ditanya kenapa ia tidak belajar (mencari ilmu), sedangkan orang yang berilmu akan ditanya apa yang telah diamalkan dengan ilmunya. Jika ia meninggalkan amal, maka ilmunya akan berbalik menjadi hujjah bagi dirinya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "Pada hari kiamat nanti, seseorang akan digiring kemudian dilemparkan ke dalam api neraka sampai isi perutnya terburai keluar. Kemudian penghuni neraka bertanya kepadanya : ‘Bukankah kamu dahulu menyerukan kebajikan dan melarang kemungkaran?' Ia menjawab : ‘Saya dahulu menganjurkan kebaikan tapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya melarang kemungkaran tapi saya sendiri mengerjakannya'."(HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda : "Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan melupakan dirinya, seperti lilin yang menerangi manusia tetapi membakar dirinya sendiri". (HR. Thabrani). Yahya bin Muadz Ar Razi berkata : "Orang miskin pada hari kiamat adalah orang yang ilmunya berbalik menjadi hujjah baginya, ucapannya berbalik menjadi musuhnya, dan pemahamannya yang mematahkan udzurnya". Ibnul Jauzi berkata : "Orang yang benar-benar sangat patut dikasihani adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam suatu ilmu yang tidak ia amalkan, sehingga ia kehilangan kesenangan dunia dan kebaikan akhirat, kemudian dia ketika hari kiamat dalam datang dalam keadaan bangkrut dengan kuatnya hujjah atas dirinya". Ditulis oleh: Kartari Dini
Ilmu merupakan pijakan dalam beramal, sebagai landasan berbuat dan mengarahkan perbuatan ke arah kebaikan. Dengan ilmu kita mengetahui segalanya. Seorang bijak pernah berkata, "Ilmu tanpa amal; cacat. Dan, amal tanpa ilmu; buta." Maaf kalau perkataan orang bijak ini salah redaksi. Atau, ada istilah bangsa Arab yang tak pernah luput dari ingatan kita, "Al-'ilmu bilaa 'amalin, kasy-syajari bilaa tsamar". Terjemahan bahasa Indonesianya lebih kurang seperti ini: "Ilmu yang tidak diamalkan bagai pohon tak berbuah. Hati-hati, ini bukan hadits, melainkan pepatah alias 'ibarah. Makanya, jika berdakwah, pakailah dalil sesuai sumbernya. Jangan pepatah dianggap hadits.
Andaikata kita shalat fardlu tanpa wudlu, ya mungkin karena tidak tahu ilmunya, lantas kita shalat ber-rakaat-rakat hingga badan pegal-pegal. Apakah akan berbuah pahala? Tentunya tidak. Manusia pembelajar selalu melakukan segala pekerjaannya didasarkan pada ilmu yang ia peroleh. Amal merupakan konsekuensi dari ilmu. Untuk itu, setiap ilmu harus aplikatif, dan setiap amal harus ilmiah. Ilmu harus profesional, dan profesionalisme harus ilmiah!
Pra Nikah 1: di Jalan Dakwah Aku Menikah

Ada tiga golongan yang pasti dibela oleh Allah swt. Golongan tersebut adalah mujahid fi sabilillah, budak yang ingin memerdekakan dirinya, dan orang yang menikah dengan tujuan untuk menjaga kehormatannya. Pada tulisan kali ini, kita akan membahas poin yang ke tiga.
Pernikahan hanya dilakukan pada satu dari dua jalan. Jika bukan pernikahan di jalan dakwah, maka pernikahan di jalan syahwat.
Pernihakan di jalan dakwah itu tidak pernah kuno. Sejak zaman Rasul saw, sampa zaman sekarang, pernikahan di jalan dakwahlah yang terbaik. Pernikahan itu dihiasi dengan ilmu (ilmu pra nikah akan dibahas di tulisan selanjutnya), dan penuh keyakinan, keyakinan pada Allah dan jalan yang ditempuh oleh rasulnya. Bila pernikahan dilangsungkan di jalan Allah, maka yakinlah besok perolongan Allah akan datang.
Jalan dakwah adalah jalan kedisiplinan dan keistiqamahan. Tolak ukur pertama sebelum memilih pasangan tidak lain adalah agamanya. Pilihlah karena agamanya, maka insya Allah berkah. Untuk memperoleh calon yang baik, maka binalah diri mulai dari sekarang.
Jalan dakwah adalah keteladanan. Kita harus siap menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat dan teladan bagi anak-anak kelak.
Jalan dakwah penuh kebersahajaan. Bukan mereka yang menjadi konglomerat, bukan pula yang melarat. Pernikahan dan kehidupan setelahnya tidak menghambur-hamburkan uang. Walau kaya atau miskin, hidup senantiasa bersahaja.
Jalan dakwah bukan jalan menuju pemenuhan syahwat, melainkan jalan menuju ridho Illahi. Pernikahan adalah setengah dari agama. Pernikahan menghilangkan penyakit sosial, menumbuhkan kedewasaan dan kepedulian, dan dengan pernikahan, seseorang akan merasakan bagaimana kepayahan orang tuanya dulu untuk membesarkannya. Pernikahan di jalan dakwah akan membangun generasi yang Rabbani.
Setelah menikah, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk meminimalisasi cekcok.
- Pilihlah pasangan yang beragama. Karena dia akan mencintaimu apa adanya.
- Ingatlah khutbah pernikahan. Nasihat pernikahan hendaknya diingat terus, bukan hanya formalitas resepsi.
- Carilah lingkungan orang-orang yang mengajak kepada ridho Allah.
- Perkaya fikrah.
- Jagalah biduk rumah tangga dengan mengingat tujuan awal pernikahan.
Diresume oleh: Nila Sartika Achmadi
Saat Munculnya Penyesalan pada Hari Kiamat
Ada beberapa waktu di mana manusia akan mengalami penyesalan, namun saat itu, penyesalah tidak ada gunanya lagi.
Saat terjadinya kiamat kecil. Kiamat kecil lebih dikenal dengan kematian. Bahkan Fir'aun pun hendak betobat saat kematian menjemputnya. Namun, sudah tidak ada waktu lagi. Ketika nyawanya akan dicabut, barulah dia mengakui Allah. Begitu banyak waktu yang disediakan selama hidup di dunia, namun tak sedikit pun dari waktu itu yang digunakan untuk melakukan kewajibannya yaitu beribadah kepada Rabb nya. Saat nyawa mulai dicabut, digambarkan tempat pemberhentian selanjutnya, penyesalan akan terjadi karena waktu yang dia-siakan.
Ada pula nanti waktu dimana manusia hanya bisa menggigit jari. Dalam Al Qur'an Surah Al Furqan:27 -29 Allah berfirman:
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama rasul." Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan tiu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.
Orang-orang yang salah memilih teman di hari kemudian dia diterlantarkan oleh temannya.
Ketika amal perbuatan diperlihatkan, ketika diberi kitab yang menuliskan tentang amal-amalnya, mereka pura-pura lupa. Ketika disiksa, barulah mereka ingat. dalam Surah An Naba disebutkan penyesalan orang-orang kafir: "Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: 'Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah'."
Q.S. Al Kahfi: 49
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun."
Selanjutnya, saat muncul penyesalan dari manusia adalah ketika neraka dilantangkan. Leher neraka mencari tiga macam orang, yaitu mereka yang menjadikan tuhan selain Allah, mereka yang sombong dan bandel, dan mereka para penggambar.
Q.S Al Fajr: 23 -24
"dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam; dan apda hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini."
Setelah itu, penyesalan pun akan menggrogoti manusia ketika berdiri di neraka. Disebutkan oleh Allah dalam Al Qur'an Surah Al An'am ayat 27.
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman," (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).
Dan penyesalan selanjutnya pun akan dirasakan ketika dilempar ke dalam api neraka.
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andai kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul."
Maukah kita menjadi bagian dari penyesalan itu??
diresume oleh: Nila Sartika Achmadi
Amal Jama'i
Amal jama'i dapat didefinisikan sebagai "gerakan bersama untuk mencapai tujuan organisasi berdasarkan keputusan yang telah ditetapkan".
Ciri-ciri amal jama'i adalah:
- Aktivitasnya berdasarkan keputusan bersama
- Mempunyai sistem organisasi lengkap, aktivitasnya rapi dan tersusun
- Tidakan dan aktivitasnya sesuai dengan pendekatan yang disepakati
- Seluruh aktivitasnya bertujuan untuk mencapai cita-cita organisasi
Maka dari itu, amal jama'i merupakan fitrah seluruh alam. Tidak ada yang mampu berdiri sendiri, semua orang memerlukan orang lain untuk menjadi bagian dalam misinya.
Amal jama'i juga merupakan kewajiban syari'at. Dalam Al Qur'an surah Ali Imran Allah berfirman, "Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai ...." Allah mengisyaratkan bahwa manusia hendaknya selalu bersatu. Bukan kebersamaan secara fisik yang membuat manusia bersatu walaupun kebersamaan fisik akan lebih mudah menyatukan ide dan mengembangkan strategi. Melalui amal jama'i, kita dapat bersama-sama menggapai ridho Allah, dengan menjadi satu kesatuan yang kokoh dan saling mengikat. Dengan demikian susupan iblis yang senantiasa menggoda dapat diminimalisasi karena banyak yang akan mengingatkan sebelum kita melangkah lebih jauh pada jalan yang salah. Manusia telah diamanahkan untuk mengemban misi dakwah. Misi dakwah bukan hal yang mudah dilakukan sendiri. Adanya amal jama'i membuat beban akan semakin ringan.
Selain itu, sekarang kejahatan telah terorganisir. Ali bin Abi Thalib berkata bahwa kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Sekarang iblis semakin canggih menggoda. Mereka memilih manusia-manusia canggih yang mampu meramu berbagai macam strategi yang ampuh untuk menaklukkan umat Muslim. Bila kita bergerak sendiri, mudah bagi "mereka" menghancurkan kita satu per satu. Di dalam amal jama'i kita saling menguatkan untuk mencapai tujuan dakwah.
Amal jama'i dapat lebih menjaga iman seseorang. Dengan beramal bersama, kita pun dapat memperoleh pahala yang lebih besar, misalnya pahala shalat jama'ah, serta dapat mencegah kefuturan.
diresume oleh: Nila Sartika Achmadi
Memilih Sahabat
Sahabat adalah dia yang meminta maaf, bahkan sebelum bertanya apa kesalahannya. Dia yang berkata aku ada di sini untukmu, bukan bertanya di mana saja dirimu. Dia yang rela memberi dan berkorban, bukan bertanya seberapa banyak pengorbananmu untuknya.
Memilih sahabat lebih dari sekedar memilih orang yang akan memenuhi kebutuhan kita, tetapi seseorang yang mampu istiqamah bersama kita di jalan yang diridhoi sang Khaliq. Seseorang yang rela menyakiti hati kita, walau sebenarnya berat baginya, demi membuat kita memilih jalan yang benar. Karena kita sering lalai, menganggap diri kita mengerti padahal sama sekali tidak tau apa yang baik untuk kita. Kadang mereka justru lebih mengerti tentang hal itu. Seseorang yang tidak sekedar memuji, membuat kita terlena pada kelebihan kita, namun lalai pada kekurangan kita yang justru menumpuk dan siap menghadang kita di pintu surga, namun menunjukkan secara santun kekurangan-kekurangan itu, membuka mata kita agar kita hengkang dari bibir jahannam. Seorang sahabat tidak hanya ada saat kita tertawa, namun juga ada untuk kita di saat linangan air mata menjadi kabut pada hari-hari kita.
Memilih sahabat berarti memilih jalan yang akan kita lalui, lebih dari itu, memilih sahabat berarti memilih tujuan akhir, surga atau neraka. Sahabatlah yang akan mewarnai hari-hari kita. Bersama sahabat kita tentukan warna kehidupan, akan cerahkah, atau akan suram.
Pilihlah sahabat dari golongan orang-orang yang akan menggiringmu ke surga. Bertemanlah dengan semua orang, karna melalui pertemanan akan kita peroleh jalan untuk dakwah kita. Namun di antara teman tersebut, pilihlah mereka yang mencintai Rabbnya untuk menjadi sahabatmu. Lalu akan kau temukan dirimu bersamanya di bawah naungan Allah di hari tiada lagi naungan selain naungan-Nya.
ditulis oleh: Nila Sartika Achmadi
Aisyah part 1: "Mari Berkenalan"
Aisyah masih belia kala dinikahi oleh Rasulullah saw. Tidak jarang dia melakukan hal-hal yang membuat ibunya marah dam menghukumnya. Mengetahui hal tersebut, Rasulullah merasa sedih dan berkata kepada ibunya, “Wahai Ummu Ruman, berikanlah nasihat yang baik bagi Aisyah, dan jagalah aku di dalam dirinya.” (Mustadrak Hakim, 4/6, no. 6716).
Sebelum menikah dengan Aisyah, Rasulullah pernah bermimpi melihat wajahnya. Dalam sahih-nya, Bukhari meriwayatkan dari Aisyah r.a., katanya, “Rasulullah saw. bersabda. ‘Engkau telah ditampakkan kepadaku dua kali sebelum kunikahi. Aku melihat malaikat membawamu dengan diselimuti sehelai sutra. Kukatakan kepadanya, ‘Bukalah.’ Malaikat itu mebukanya, dan ternyata itu adalah engkau kemudian aku berkata, ‘Jika ini dari Allah, maka Dia akan memastikannya.’ Kemudian aku melihat malaikan membawamu di balik sehelai sutra, aku berkata kepadanya, ‘Bukalah.’ Dia pun membukanya dan ternyata itu adalah engkau. Aku berkata, ‘Jika itu dari Allah, maka Dia akan memastikannya’.” (Sahih Bukhari, kitab at-Ta’bir, no. 7012, kitab al-Manaqib, no. 3895 dan kitab an-Nikah, no. 5078. Sahih Muslim, kitab Fadha’il ash-Shahabah, no.2438. musnad Imam Ahmadi, 6/41, no. 24188 dan 6/128, no.25015).
Pada zaman dulu, cuaca panas yang dialami bangsa Arab di negerinya menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak perempuan menjadi pesat di satu sisi. Di sisi lain, pada sosok pribadi yang menonjol, berbakat khusus, dan berpotensi luar biasa dalam mengembangkan otak dan pikiran, pada tubuh mereka terdapat persiapan sempurna untuk tumbuh dan berkembang secara dini. Bahasa Inggris mengistilahkannya precocious (pertumbuhan dini atau kematangan dini). Maka dari itu, memang pantas Aisyah dinikahkan di umur yang sangat muda.
diresume oleh: Nila Sartika Achmadi
Hadist Arba'in 19
Abu Abbas Abdillah bin Abbas r.a. berkata, suatu hari aku berada di belakang Rasulullah saw, lalu beliau bersabda:
“Wahai pemuda! Aku hendak mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah maka Ia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati Ia bersamamu. Bila engkau memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya, bila engkau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Allah.
Ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yng bermanfaat bagimu, maka mereka tidak bisa memberi manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepadamu. Dan seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang merugikanmu, maka mereka tidak bisa merugikanmu kecual dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah terhadapmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering tintanya (HR Tirmidzi)
Menurut riwayat lain selain Tirmidzi dijelaskan,
“Jagalah Allah, niscaya engkau akan bersama-Nya. Kenailah Allah di waktu lapang, niscaya Ia mengenalimu di waktu susah. Ketahuilah bahwa segala perbuatan salahmu belum tentu mencelakaimmu dan musivah yang menimpamu belum tentu akibat kesalaganmu. Ketahuilah bahwa kemenangan beserta kesabaran, kebahagiaan beserta kedukaan dan setiap kesulitan ada kemudahan!
Di atas adalah hadist arba’in yang ke 19. Dijelaskan bahwa tidak ada kemenangan tanpa kesabaran. Kita harus senantiasa bersabar dari keluh kesah, rasa sakit, maupun berbagai kepayahan. Sesungguhnya di balik semua itu, Allah sedang menggiring kita untuk menjadi seorang pemenang. Seorang pemenang harus memiliki mental juara, dan Allah membantu menempanya. “Ketahuilah bahwa kemenangan beserta kesabaran.” Tak ada kesuksesan atau kekuatan bila ruhiyah kita ringkih. Ruhiyah pun memiliki kebutuhan yang harus senantiasa dipenuhi.
Berikut adalah 5 syarat kemenangan:
1. Memiliki sikap bagaimana menentukan kemenangan
2. Memiliki leading concept. Leading concept atau konsep inti sebaiknya tersusun, sistematis, serta tertuluis.
3. Memiliki sistem yang unggul. Sistem yang unggul itu hendaklah flexible karena dunia ini senantiasa berubah. Tetapi, fleksibilitas harus disertai konsistensi. Walaupun teknis dari sistem yang kita miliki nantinya berubah, inti atau soul dari sistem tersebut harus tetap sesuai niat awal.
4. Memiliki tim atau jama’ah. Dalam berjuang, tidak selamanya kita kuat melakukan semuanya sendiri, kita sering goyah dan membutuhkan penopang. Berada dalam tim atau jama’ah akan memudahkan kita dalam kondisi seperti ini.
5. Memiliki tujuan yang memenangkan.
Selain itu, dalam hadist di atas juga dijelaskan bahwa beserta kebahagiaan ada kedukaan. Karena itu kita harus mengingat Allah di kala bahagia. Kadang kita khusyuk meminta dan berdoa kepada Allah di kala susah, karena kita ingin segera dilepaskan dari belenggu kesusahan tersebut. Namun, di kala bahagia, kadang kita terlena dan melupakan Allah. Sebaliknya, saat berada dalam kondisi duka, janganlah berlarut-larut, karena beserta kesulitan, ada kemudahan. Setiap satu kesulitan, ada dua kemudahan. Kemudahan pertama adalah saat kesulitannya dihentikan dan kemudahan yang kedua adalah hikmah di balik kesulitan tersebut.
Namun kadang, kita mengabaikan kemudahan yang diberikan Allah. Misalnya saat tertimpa sebuah musibah, pikiran kita terfokus pada betapa beratnya musibah yang kita hadapi. Kadang menyalahkan Allah karena kemudahan tak kunjung datang. Tapi tidakkah kita menyadari bahwa, saat kita masih memiliki sahabat untuk sekedar menyampaikan keluh kesah, itu pun merupakan kemudahan yang disediakan Allah? Atau saat tak ada orang yang layak dijadikan tempat berbagi, toh, masih ada Allah tempat mecurahkan keluh kesah. Bukankan itu kemudahan yang sering kita abaikan. Ibarat air mata, yang jasanya sering dilupakan. Tanpa air mata, mata kita akan kering dan tidak mampu melihat indahnya dunia. Tapi tidak banyak di antara kita yang menyadari jasanya dan bersyukur atas kehadirannya.
dirangkum oleh Nila Sartika Achmadi
Surat Dari sang Akhwat

Assalamu Alaikum Wr. Wb.
“Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama lamanya.” (dikutip dari surat cinta Noura)
Saudaraku...
Jika ada hal yang kusesali karena memulainya, maka aku menyesal memulai semua ini. Karena jika aku tak memulainya, maka Allah akan memulainya untuk kita jika aku memang wanita yang diciptakan dari rusuk kirimu. Banyak hati yang tersakiti, karena ini memang belum saatnya.
Saudaraku...
Semua kenyamanan yang kurasakan saat ini, dan semua rasa yang kukira cinta, mungkin itu tak lebih dari sekedar nafsu belaka. Cinta itu suci, tumbuh atas dasar pengabdian kepada sang Kekasih abadi, namun nafsu hanya tuntutan manusiawi yang jika berlebihan akan menyengsarakan. Jika kukira cinta padahal ini jelas-jelas menentang-Nya, lalu dikemanakan kepatuhan qalbu? Tabiat nafsu itu, semakin diberi akan semakin meminta. Yah, itulah yang kurasakan. Namun cinta adalah kesabaran.
Saudaraku...
Bila kita meninggal sedangkan hati kita masih terpaut nafsu, bukankah itu hanya akan menimbulkan permusuhan di hari kemudian serta sesal yang tak berujung? Bukankan orang-orang yang bersekutu di dunia, kelak akan menjadi musuh dan saling menyalahkan, kecuali orang yang melandaskannya pada cinta karena Allah. Namun dalam hubungan ini, adakah Allah yang didahulukan, atau hanya nafsu yang mendominasi?
Saudaraku...
Sungguh bukan kapasitasku untu bicara seperti ini. Niatku bukan untuk menggurui, tapi ingin kuperingati diriku sendiri agar berhenti meminta sesuatu yang bukan haknya. Sekarang hati dan diriku ingin kukembalikan seutuhnya pada Rabbnya. Bila tiba saatnya, aku ingin Allah memilihkan yang terbaik untuk kita.
“Mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.” (dikutip dr http://motivation.byethost9.com/)
Maaf atas semua yang sudah aku lakukan. Tidak ada niat untuk menyisakan sakit pada siapa pun. Perubahan memang sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama, namun keputusan untuk berubah hanya perlu waktu beberapa saat. Demi Allah yang menggenggam hati-hati kita, semoga kesalahan yang serupa tak kan pernah lagi terulang. Syukran atas semuanya.
Wassalamu Alaikum Wr. Wb.
Misi Manusia
“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang Muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah pada Allah. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (Q.S. Al Hajj: 77-78)
Dalam kalam-Nya, Allah menyampaikan misi manusia, yaitu:
1. Allah memerintahkan untuk rukuk, sujud, dan shalat;
2. Allah memerintahkan untuk menyembahnya;
3. Allah memerintahkan melakukan kebajikan sepanjang kemampuan.
Sesungguhnya kebaikan pertama adalah ketika kita menjauhi maksiat. Selain menjaga tempat-tempat suci, jihad diwajibkan bagi mereka yang memiliki kekuatan dan kemampuan. Allah memerintahkan untuk berangkat dalam keadaan ringan maupun berat.
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. At taubah: 41)
Pada masa Rsulullah saw., seorang sahabat bernama Ka’ab bin Malik yang mengulur-ulur waktu dalam sebuah peperangan. Padahal dia telah paham dan memiliki fasilitas. Sampai akhirnya perang dimulai, dan dia ketinggalan pasukan. Rasulullah saw. lalu melarang siapapun menyapanya selama 40 hari, 40 malam. Dalam masa itu, Ka’ab diuji dengan ajakan pihak musuh untuk bergabung melawan Rasulullah dengan iming-iming duniawi, namun Ka’ ab menolak.
Dari kisah di atas, dapat dilihat, betapa kita diperintahkan untuk segera berjihad, baik dalam keadaan berat, apalagi dalam keadaan ringan. Allah memilih mukmin untuk menjadi khalifah, bukannya Muslim. Karena mukmin benar-benar menempatkan Allah sebagai Illah-nya.
Muslim yang ingin membela agamanya harus memiliki kekuatan jiwa yang sangat kuat dengan pilar sebagai berikut:
1. Tekad membaja yang tidak pernah melemah;
2. Kesetiaan yang teguh tanpa disusupi pengkhianatan;
3. Pengorbanan yang tidak terbatas oleh keserakahan dan kekikiran;
4. Pengetahuan dan keyakinan;
5. Penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang dipegangnya.
Sebuah bangsa akan rapuh tanpa pilar-pilar di atas. Begitu pula ummat Islam, akan rapuh tanpanya. Perlu digarisbawahi pilar yang ke-5, di Indonesia kita mengenal ideologi Pancasila, namun sebagai Muslim, ideologi kita adalah Islam.
Bandingkan Muslim Indonesia dan Muslim Palestina. Kita dalam jumlah yang banyak ibarat kerupuk, yang terlihat besar, namun rapuh, dan rentan melemah hanya lantaran terkena air. Kita telah terbuai dengan dunia, sehingga tumbuh cinta dunia dan takut mati (al wahn).
Mari kita berjuang di ranah kita masing-masing, walau kepayahan, namun selama masih ada Allah di hati, Insya Allah kaki ini tak akan berhenti melangkah hingga tiba di jannah-Nya. Sesungguhnya Allah mennguji kita dalam kelemahan kita. Maka bersyukurlah saat diuji, berarti Allah masih memperhatikan kita. Yakinlah, bahwa semakin kita mendekatkan diri kepada Allah, maka semakin dekat pula pertolongan-Nya kepada kita.
(Resume kajian, dirangkum oleh: Nila Sartika Achmadi)
Aku_Tak_Biasa
Mungkin aku terlalu jaim,,,tapi itulah diriku. Aku tidak tau mengapa begitu sulit bagiku mengungkapkan perasaan yang selalu ada itu. Mungkin aku memang tidak biasa mengungkapkannya. Bukan karena aku arogan, bukan karena aku ingin menzalimi hatiku, tapi menurutku, rasa itu akan tetap ada, tetap inidah, meski cukup aku dan Allah yang mengetahuinya. Tapi kini yang kurasakan berebda, rasa itu bukan untuk sekedar dirasakan, tapi untuk diekspresikan dengan cara yang ma’ruf.
Waktu itu, aku tidak pernah membayangkan bahwa hari itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Karena aku tak biasa mengungkapkannya, kusimpan saja rasa itu di ruangan yang mungkin tidak terjamah–jauh di relung hatiku.
Hari itu kulihat dia tergolek kaku, menatap kosong di langit-langit ruangan yang dipenuhi bau obat-obatan. Lidahnya kelu, tapi kurasakan bahwa dia ingin berkata banyak hal andai dia bisa.
Pikirku kembali pada hari sebelumnya. Dia ingin aku menemaninya, mungkin untuk terakhir kalinya, hanya saja dia tak berani memberitahuku. Aku sungguh ingin menemaninya, aku ingin memeluknya, aku ingin bersamanya. Tapi aku tidak terbiasa dengan semua ini. Aku hanya tersenyum simpul mencoba menetralisir keadaan.
Hari ini, saat dia tergolek tak berdaya, saat nyawanya ada namun seolah tak ada, mungkin dia ingin memintaku menemaninya, namun dia tak mampu lagi mengatakan semua itu. Aku memang terus ada di sampingnya, tapi bodohnya aku, aku tak berani mengekpresikan perasaanku kecuali dengan tetesan air mata yang mengaliri pipiku. Seharusnya kudekap dia, kukecup keningnya, kubantu dia mengingat Rabbnya, mungkin itu akan lebih berarti. Tapi tak kulakukan semua itu. Ya, aku tidak terbiasa.
Hingga akhirnya dia benar-benar pergi. Dia menginggalkanku, tanpa membiarkanku memberitahunya rasa itu.
Malam ini, dia dibaringkan di ruang tamu. Seluruh tubuhnya ditutup rapat dengan sehelai kain. Aku bersandar di pintu ruang tengah. Kutatap dia dari jauh, tapi aku tak berani mendekatinya. Aku tidak ingin orang lain melihatku mendekatinya. Karena… aku tak biasa dengan semua ini.
padahal aku… sungguh aku ingin memeluknya malam itu. Karena aku yakin, ini benar-benar terakhir kalinya kami bertemu di tempat ini. Walau dia tak kan bisa merasakan pelukanku lagi, aku hanya ingin memeluknya. Tapi, aku bukan orang yang terbiasa melakukan semua itu. Kupendam saja inginku, kubiarkan diriku berharap seseuatu yang sebenarnya boleh kulakukan, namun tak mampu kulaksanakan.
Kini, waktu itu telah berlalu sekitar 4 tahun. Aku hanya bisa menyesali mengapa tak kulakukan semua itu. Kini Ayahku, orang yang begitu kucintai, benar-benar telah pergi meninggalkanku ke suatu tempat yang tak mampu kukunjungi. Andai waktu dapat kuputar kembali, aku akan menemaninya malam itu saat dia memintaku ada di sampingnya. Akan kudekap jasadnya yang terbujur kaku tertutup kain di ruang tamu. Andai dapat kuulang waktu, akan kubuat diriku terbiasa mengungkapkan cintaku pad orang tuaku, orang yang memang layak kucintai, seharusnya kucintai, dan wajib kucintai karena Allah.
Tapi waktu tak pernah dapat kembali. Biarlah kini cinta itu ada dan kuungkapkan melalui bulir-bulir doaku untuk keselamatannya.
“I love you, Dad….”
oleh: Nila Sartika Achmadi
Buka Bareng '07 SMANSA Maros
Dua hari yang lalu, ada buka bareng yang diadakan angkatan ’07 SMANSA Maros. Ternyata namaku masuk kepanitiaan, tapi aku hampir gak pernah ikut persiapannya. Alasan pertama karena aku selama ini di Bandung, dan yang kedua, beberapa hari sebelum acara, walaupun aku udah di Maros, entah kenapa kayknya males aja ke sekolah. Mm... males ninggalin rumah tepatnya.
H-1, Ikram mampir ke rumahku karena kebetulan dia baru dari Makassar. Dia sekalian ngajakin ke sekolah buat bayar uang buat buka bareng. Ya Allah, well, Ikram memang bilang kalo rambutnya gondrong dan sebelum aku ngeliat dia, aku udah bilang kalo pasti dia jelek dengan rambut gondrong. Dan... dia ke rumahku dengan rambut gondrongnya, kacamata yang kutau tidak berlensa minus, plus, maupun silinder, dan topi. Saat kubuka gordin pintu tengah yang menghubungkan bagian dalam rumah dan ruang tamu tempat Ikram, ibu, dan adikku duduk berbincang, aku refleks langsung menutup gordin dan masuk lagi.
“Ikram!! Rambut kamu!! Ya Allah!” aku dengan suara sedikit melengking dari balik gordin. Lalu aku menghampirinya di ruang tamu. Bah! Sebenarnya dia gak jelek kok, dengan rambut gondrongnya, hanya saja, aku udah bilang ke anak PHOENIX bahwa aku gak suka ngeliat temen-temen cowokku erambut gondrong. Aku lebih suka mereka cepak, keliatan lebih rapi, keliatan masih seperti waltu kami SMA. Tapi tenang aja, gondrong atau cepak, selama mereka masih menyimpan kenangan kami, kami bakalan terus bareng sebagai PHOENIX. ^^,
Kami berdua jalan kaki di hangatnya sore Kabupaten Maros. Awalnya pengen naik angkot, tapi naik angkot juga tetep harus jalan ke SMANSA, pengen naik becak, gak mungkin kami duduk di becak yang sama, so, amannya ya jalan aja.
Beberapa belas menit berlalu. Ikram sempet bilang, aku waktu SMA harusnya jalan aja ke sekolah, gak usah pake naik becak segala, jaraknya deket kok. Akhirnya kami nyaris tiba di SMANSA. Entah kenapa, mungkin karena mendadak jadi gak PD waktu aku bilang dia jelek dengan rambut gondrongnya, Ikram nanya ke aku, “Nila, kamu malu gak, jalan ma aku?”
“Ha? Kamu malu jalan sama aku?” sengaja kupancing dengan ngebalik pertanyaannya.
“Gak... gak... maksudnya, kamunya, malu gak jalan sama aku?”
“Jah! Ikram. Gak ada alasan buat aku malu jalan sama kamu. Kenapa sih, tiba-tiba ngomong gitu?”
“Gak sih. Maaf yah, penampilan aku kayak gini,” katanya sambil ngebenerin posisi topi di kepalanya.
“Ih, apa-apaan sih, kamu gak perlu minta maaf. Aku bilang gak suka kamu gondrong bukan karena kamu jelek sebenarnya, tapi karena keliatan gak rapih aja.”
“Iya, makanya maaf.”
“Kamu tuh, siapa suruh minta maaf mulu. Kamu bikin aku ngerasa bersalah tau! Jangan minta maaf lagi! Udah!”
Kami akhirnya menjejakkan kaki di halaman SMANSA Maros tercinta. Dari ruang guru, terlihat seorang perempuan, sepertinya salah satu guru kami, tapi aku gak terlalu jelas ngeliat itu siapa, dia melihat ke arah kami. Ibu itu menaruh tangan di atas alisnya, tetap mencoba melihat ke arah kami, tapi akhirnya dia berhenti dan berjalan menuju bagian belakang sekolah.
Tiba di ruang guru, kucari Ibu yang tadi. Ups, tenyata Bu Sri to? Aku dan Ikram salam-salaman sama Ibu. Dia bilang, kami berdua bercahaya banget sampe ibunya silau dan gak bisa ngeliat siapa yang lagi jalan. Aku ngebayangi kami ini kayak vampir Twilight yang bersinar cerah di bawah matahari. Haha... padahal matahari berada tepat di belakang kami, jadi kalo tadi Ibu ngeliat ke arah kami, matanya disilaukan oleh matahari sore.
Kami menuju Mushalla Ulul Albab, mushalla SMANSA Maros. Bangunan mushalla sekolahku ini, sangat menunjukkan bahwa kami membangun mushalla bukan sekedar ruangan sisa, seperti... haha. Ikram shalat Ashar, dan aku ngobrol dulu sama K’ Dharma.
Setelah keliling gak jelas di sekolah, aku dan Ikram jalan menuju ruangan deket koperasi OSIS, entah sekarang itu dijadikan kelas apa, tapi dulu itu kelas XI IS (Ilmu Sosial) 1. Di sana ada
Musda, kami anak PHOENIX alias XII IA 1 bayar buka bareng ke dia.
Prosesi bayar-bayaran udah selesai, aku dan Ikram pamit pulang. Wali, ketua panitia buka bareng, anak XII IA 2, salah satu temenku yang kuliah di Jakarta, nanya.
“Kalo mau ngehubungin kamu, ke nomor yang mana?” tanya Wali ke aku.“Aku gak ganti nomor kok.”
“Iya, tapi nomor kamu berapa?”
“Kamu gak tau nomor aku?” sepintas kupikir HP sempet hilang atau apalah. Soalnya kemarin
kita keep contact kok. Ternyata dia mau ngarahin pertanyaannya ke, “HP kamu di mana?” Dan God, aku udah beneran hampir balik, tapi lupa kalo HP ku tadi kutinggal di bangku panjang depan ruang guru. Hehe... HP nya ada sama Musda. Alhamdulillah gak hilang. Ceroboh!
***
Pagi itu, Ikram ngajakin ke SMANSA bareng buat ikut persiapan buka bareng pas sorenya. Sekitar jam sembilanan rencananya kami bakalan berangkat. Setelah aku mandi dan siap-siap, tenyata Ikram batal ke rumahku. Katanya dia ke SMANSAnya abis Jumatan aja. Alasannya sih, takut di sekolah gak jelas bakal ngerjain apa. Kalo pun mau nyiapin kegiatan, takut bajunya kotor, trus harus shalat Jumat, gak mungkin dia balik ke rumahnya dulu dan kembali lagi ke sekolah. Aku bilang, gimana kalo dia bawa baju ganti aja. Tapi dia tetep gak mau, katanya takut bajunya lecek. Bah! Kalo gitu mah, udah gak ada jalan lagi kita pergi bareng. Aku gak mungkin nunggu dia sampe abis shalat Jumat, udah rapi-rapi gini.
Aku berangkat ke sekolah naik becak. Kamaren-kemaren sih, aku dianterin adek, tapi berangkat sepagi ini dia belom bangun. Hahagh.... Lagian, becak di sini gak semahal becak di Bandung, rata-rata ongkosnya cuman dua ribu rupiah. Dengan jarak yang sama di Bandung, aku harus bayar sekitar enam ribuan. Well, I love this part.
Tiba di sekolah, aku cuman ikut bersih-bersih ruangan dikit trus nyapu-nyapu lantai gitu. Setelah bersih-bersih, aku cuci tangan di keran depan kelasku dulu, XII IA 1, PHOENIX. Di depan terasnya, masih ada nama PHOENIX yang ditulis di atas semen beberapa tahun yang lalu. PHOENIX merupakan sebagian—hampir semua—kebahagiaanku masa SMA.
Ternyata, ujung-ujungnya makanan buat ta’jilnya diracik di rumahku. Alasannya, mereka kan, baru belanja, dan rumahku deket pasar, jadi katanya dibikannya di rumahku aja. Bah! Aku udah rapi ke sekolah, ujung-ujungnya harus balik lagi buat bantu-bantu bikin es kelapa muda dan es buah.
Ta’jil selesai, anak-anak pada balik ke sekolah. Aku shalat Ashar dulu baru berangkat. Nyampe di sekolah, aku bantu-bantu anak konsumsi ngelap piring, setelah itu karirku kembali ke asalnya, menjadi anak acara. Aku minta rundown acara sama Ippank, lalu nanya-nanya apa siapa kira-kira tamu istimewa yang perlu disapa di awal acara. Aku bertindak sebagai MC acara ceremonialnya. Aku ingat jaman SMA, hampir setiap ada acara resmi, aku yang ditnjuk jadi MC nya. Sampe-sampe, MOC (Mathematic Open Championship) yang diadain MSc (Mathematic Society) SMANSA Maros, selama aku SMA, tiga tahun berturut-turut selalu aku yang nge-MC acara pembukaan dan penutupnya. Haha.... Entahlah, mungkin karena mereka tersugesti oleh Pak Syahrir yang saat pertama kali aku nge-MC formal di sekolah, langsung muji-muji, katanya aku MC terbaik yang pernah Beliau liat di sekolah ini. Makanya semua pada percayain tugas MC
ke aku. Haha... iya gak, c? gtw juga deh....
Jadi inget pas acara anak Paskib. Waktu itu ada penyambutan anak Paskib SMA 5 kalo gak salah, yang berkunjung ke sekolah kami. Sebenarnya waktu itu aku jadi kadiv konsumsi (pertama dan terakhir aku masuk kepanitiaan SMA, gak jadi anak acara), tapi aku “dipaksa” jadi MC sama pembina Paskib. Aku seneng sih, soalnya gak perlu berkutat ma konsumsi, dan jiwaku memang acara. Tapi waktu itu suaraku lagi agak serak, tapi entah... Ibunya kekeuh harus aku.
Waktu nge-MC, di backstage aku ada asisten, Nunu, ade bungsuku. Huhu... dia kuminta megangin pulpen, kertas-kertasku, dan kipas. Kalo turun panggung, kadang aku minta dikipasin, atau aku ngipas sendiri kalo cara dia gak terlalu bagus. ^^, lagakku udah kayak tuan putri.
oleh: NiLa Sartika AChmadi
Mengakhiri Nafsu Berkedok Cinta
Aku pernah mencintai dan merasa ingin memiliki seutuhnya sesuatu yang bukan milikku. Aku sangat takut kehilangan padahal aku tidak mungkin kehilangan sesuatu yang bahkan tidak kumiliki.
Au mencintainya karena merasa diperlakukan seperti seorang putri. Waktu itu aku sempat bilang padanya, aku tidak tau permintaanku yang mana yang tidak dia penuhi. Kedekatan itu semakin menjadi saat kami terpilih menjadi ketua dan sekretaris umum OSIS. Sebenarnya aku menyadari bahwa ketertarikan pada lawan jenis itu adalah fitrah yang disematkan bersama penciptaanku sebagai menusia. Tapi rasa itu bukan untuk disemikan dengan cara saling mengungkapkan rasa, atau pun kedekatan yang melanggar syari’at agama. Kami memang tidak pernah keluar berdua atau nge-date seperti orang pacaran, tapi kami saling menyimpan rasa, mengungkapkannya, lalu buncahan-buncahan ketertarikan akan semakin mendesir dalam dada kami. Entah bagaimana caranya, tapi iblis sangat tau cara untuk menjerumuskan iman kami. Semua ini terlarang bagiku maupun dia, bukan hanya karena kami anak rohis sehingga tidak boleh terjebak skandal VMJ (Virus Merah Jambu), tapi juga karena kami ini hamba Allah, yang dititipi amanah hidup untuk beribadah pada-Nya, bukan untuk menuruti hawa nafsu yang bertopeng “cinta”.
Saat aku menyadari bahwa gayung telah bersambut, hatiku semakin terpaut padanya. Dulu aku sempat menjadi sangat posessive, begitu takut kehilangan dia, walaupun sisi hatiku yang lain menytakan bahwa tidak mungkin aku kehilangan, karena dia pernah berjanji padaku. Karena janjinya itu, aku mengabaikan bahwa Allah yang memutuskan semuanya, bahwa ada sesatu bernama takdir yang menantiku di ujung jalan ini, bahwa sekuat apa pun aku mempertahankannya, bila Allah menakdirkan aku dan dia bukan jodoh, maka tidak ada yang dapat kami lakukan.
Dia pernah berjanji padaku bahwa dia akan mencintai aku—hanya aku—untuk selamanya. Dengan berpegangan pada janji itu, aku menaruh keyakinan bahwa apa yang kai rasakan akan berlangsung untuk selamanya.
Aku tidak pernah menginginkan sesuatu lebih dari keinginanku untuk menikah dengan dia suatu saat nanti. Sesekali dia pernah mengingatkan bahwa ada takdir yang menentukan jalan kita nantinya, bila nanti kita tidak jodoh.... Tapi aku tidak pernah sepenuhnya mengerti dengan kalimat sederhana itu. Ketika dia mengatakan hal tersebut, aku langsung mengklaim bahwa dia sudah tidak mencintaiku lagi dan telah memutuskan untuk meninggalkanku. Mendengar klaimku yang sangat childish dan begitu posessive, dia pun serhenti hanya di pernyataan itu, tanpa memberi melakukan reasoning apalagi elaboration (dalam debat, dikenal assertion, reasoning, elaboration, lalu link back).
Semua kenangan yang kulalui bersama dia sejak kelas 2 SMA, kurasa tak akan pernah tergantikan. Kenangan itu ingin kumiliki untukku dan orang yang ditakdirkan sebagai suamiku kelak, dan aku ingin orang itu adalah “dia”. Aku merasa bahwa kenangan itu adalah kenangan terindah yang pernah dan akan kumiliki seumur hidupku, tak akan terulang maupun terganti dengan yang lain.
Sama seperti persahabatanku. Selepas SMA, saat memasuki bangku kuliah, aku tidak pernah menyangka akan menemukan persahabatan seperti yang kurasakan waktu SMA. Kukira sahabat masa SMA ku adalah yng terbaik, tak kan tergantikan oleh siapa pun yang kutemui di bangku kuliah. Aku merasa tidak akan ada yang dapat mengerti aku kecuali sahabat-sahabatku di SMA, Phoenix dan anak SMANSA Maros yang lain. Kukira selama kuliah aku hanya akan menemukan teman yang hadir lalu pergi lagi, tak kan ada sahabat dan tak kan ada kenangan yang tercipta untuk diingat di kemudian hari. Hanya saja, aku keliru, di sini, kuemukan begitu banyak sahabat, orang yang menerima aku apa adanya, dan mampu menemani proses belajarku menjadi seorang akhwat sejati.
Kini, cinta yang kurasakan pada orang itu tidak hilang bahkan semakin tumbuh hingga saat ini, saat aku memasuki tahun ketiga di bangku kuliah. Akan tetapi, cinta yang kurasakan, bukan lagi rasa ingin memiliki yang sedangkal dulu, bukan lagi sebuah pemaksaan atas takdir Allah, bahwa aku hanya menginginkan dia untuk masa depanku. Cinta yang kurasakan bukan lagi gejolak nafsu seperti dulu. Cinta yang kini kurasakan adalah kecintaan saudara kepada saudaranya. Aku mencintainya sebagai saudara seimanku, aku tidak ingin Allah memurkainya karena kedekatan kami yang melanggar syari’at.
Semua perubahan ini tidak berlangsung dalam waktu dekat dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku harus melawan hatiku yang masih sangat menginginkan dia, aku harus membiarkan pipiku terus dialiri air mata yang harus kusembunyikan dari dunia karena aku tidak ingin terlalu banyak yang menyadari betapa aku bersedih atas semua ini. Selama sekitar setahun empat bulan, hubungan kami begitu dingin, kami sempat saling menghindar, diam-diaman, pokoknya segala cara untuk melepaskan tautan yang sempat menghubungkan hati kami.
Kini, aku telah mampu mengikhaskannya. Melepasnya kembali pada Rabb seluruh alam. Tidak peduli siapa jodohku kelak, aku telah menyerahkan pada Allah untuk memilihkan untukku. Kini aku telah mampu tersenyum walaupun dia tidak lagi di sisiku sebagai orang yang mencintaiku seperti dulu. Dia tetap ada sebagai saudaraku, tidak lebih dari itu. Semoga ini menjadi perpisahan karena Allah. Mungkin kelak dia akan bertemu seorang akhwat yang jauh lebih baik dari aku yang dipihkan Allah baginya, begitu pula denganku dan masa depanku. Dan kini aku dapat tersenyum atas hal tersebut.
Kini aku telah menikmati indahnya ukhuwah tanpa embel macam-macam, tanpa digrogoti VMJ, dan aku sungguh menikmatinya. Alhamdulillah....
oleh: Nila Sartika Achmadi
15 Agustus 2009
Kalo dihitung dari hari ini, sekitar 21 hari lagi aku insya Allah balik ke Maros. Hm... kalo aku gak balik lagi Ramadhan ini, bisa-bisa aku jadi the next Bang Toyyib, tiga kali puasa tiga kali lebaran gak pulang-pulang.
Entah mengapa Ramadhan tahun ini banyak banget hal yang membuatku begitu kangen rumah. Yah, gak bisa kupungkiri juga ada beberapa orang yang menjadi stimulus keputusanku ini. Tapi walau stimulus itu ada, dan kurasakan ada keinginan di dalam hatiku, aku tidak ingin meminta pada Ibuku untuk mengizinkanku pulang. Aku ingin pulang kalo ibuku dulu yang nawarin buat pulang. Aku takut, kalo aku minta pulang, sebenarnya ibuku gak ada uang, tapi diusahain banget-banget karena tau aku udah minta. Secara, aku itu anaknya jarang meminta sesuatu, makanya sekali minta, kadang orang tuaku mengusahakan sekuat tenaga untuk memenuhi keinginanku.
Namun, untuk Ramadhan kali ini, ibuku yang langsung meminta aku untuk pulang. Bahkan, waktu masih di Surabaya, begitu tau aku ini lagi libur, dia langsung nanya, kenapa aku belum ngusahain untuk pulang. Artinya dia udah gak sabaran pengen ketemu aku. Haha... so do I Mom. Well, Ramadhan taun lalu, aku terlanjur cerita bahwa aku jadi sekretaris panitia Ramadhan. Hm... ibuku itu gak pernah mau ngeganggu sedikitpun kegiatan kuliahku maupun organisasi di kampus. Dia kepengen aku fokus sama semua yang aku kerjain di kampus. Aku tau dia kangen banget, begitu pula aku. Tapi dia melepaskan kerinduannya dan bilang bahwa aku gak usah kepikiran pulang atau apa pun, cukup aku fokus dengan yang lagi aku jalanin sekarang. Walaupun dia kangen, rasa kangen itu dapat ditunda, beda halnya dengan pengalaman yang sedang aku rajut, pengalaman itu belum tentu muncul untuk yang kedua kalinya.
Ibuku, melepaskanku pergi ke Bandung dengan penuh pengorbanan. Selama aku masih tinggal di rumah, sejak aku lahir sampai tamat SMA, jarang banget aku nginap di luar, baik di rumah keluarga, apalagi di rumah teman. Beda dengan adik-adikku yang sering nginap di rumah nenek, aku justru lengket banget sama orang tuaku. Jangankan nginap, keluar bentar aja dari rumah—dari aku kecil sampai SMP—pasti langsung dicariin. Adik-adikku yang lain, baru dcariin kalo udah mau Maghrib belum pulang juga. Padahal, aku ini anak sulung, tapi kadang aku merasa penjagaan orang tuaku kepadaku melebihi adik-adikku.
Aku tau, baik aku maupun ibuku tidak pernah lama berjauhan. Kini, dia harus rela melepaskanku, membiarkan dirinya menanggung kerinduan, demi cita-citaku. Seperti yang pernah kukatakan bahwa bila ada orang yang paling tersiksa karena jauh dariku, maka orang itu adalah ibuku. Hanya saja, dia tetap profesional, karena jaman dia kuliah dulu, dia juga jauh dari orang tuanya. Dia sepenuhnya menyadari bila membebankan kerinduannya padaku, hanya akan membuatku kepikiran rumah sepanjang tahun dan tidak mampu fokus pada pencapaian cita-citaku. Maka dari itu, dipendamnya kerinduan pada anaknya ini hanya bagi dirinya sendiri. Sangat jarang dia mengatakan rindu padaku, padahal aku mampu mendengar dari suara dan cara bicaranya bahwa ada secercah kerinduan yang menggelayut di ujung hatinya.
Waktu SMA, akhirnya kau diizinkan untuk ikut ekskul. Izin itu kujadikan momen untuk sibuk di sekolah. Aku pernah jadi sekretaris OSIS, kadiv Penerbitan Buletin Rohis, wakil ketua di English Fans Club, wakil bendahara di Mathematic Society, anggota KIR, aku juga sempat ikut-ikut club seni di jurusan drama. Hampir setiap hari aku pulang menjelang Maghrib. Saat pulang, ibuku tidak pernah mau tau aku baru aja udah makan atau belum, pokoknya nyampe rumah, ganti baju, langsung makan, kalo nggak, ibuku akan mengklaim bahwa aku sedang sakit. Makanya, kalo ada temen yang ngajakin makan sebelum pulang, jarang kuturuti, abisnya, makan sebelum pulang, nyampe rumah langsung makan lagi. Dan... kalo aku bilang udah makan di sekolah, pasti ditanya makan apa, paling aku cuman makan bakso atau mie pangsit, atau gado-gado, dan ibuku bakal bilang, “apa tuh, bakso, gak sehat, kamu kalo tiap hari makannya bakso mulu mau jadi apa?... bla... bla... bla....”
Coba bandingkan hidupku di Bandung sebagai anak kostan. Mana ada yang mau nyiapin aku makan tiap mau makan. Padahal dulu, kalo nyampe rumah, langsung disiapin makan, kalo ibuku lagi sibuk, biasanya adekku yang bungsu yang diminta ibu buat nyiapin aku makan. But now, it’s all by myself.
Hehe... tapi, kalo aku gak ngalamin ini semua, hidup sebagai anak kost, mana mungkin aku ngerasain pusingnya ibuku mikirin menu makan sekeluarga tiap hari. Aku aja yang hanya mikirin makan buat aku sendiri udah pusing, malah kadang sampe males makan. Kalo aku tetap jadi anak yang serba disiapin segala macamnya di rumah, aku nanti gak akan bisa nyiapin segala macam keperluan rumah tangga kalo udah nikah. Mungkin itu satu dari sekian hikmah menjadi anak kost, terpisah dari rumah, dan harus berjuang sendiri. Hidup anak kost!
oleh: Nila Sartika Achmadi








