Omurice ala Nila

Akhirnya aku memutuskan untuk mempraktekkan video yang aku liat di youtube (salah satunya doang). It was Omurice. Omurice adalah makanan Jepang yang kalo gak salah, artinya nasi ayam. Aku udah mulai suka dan pengen makan makanan ini sejak nonton Lunch Queen. Ngeliat cewenya makan Omurice bikin ngiler. Sayangnya bikin demiglace sausnya susah.

Okay, here we go. Omurice ala Nila.

Waktu itu lagi mau makan siang (kalo gak, sarapan yang digabung sekalian makan siang). Ina, temen kamarku, lagi shaum. Inspirasi ini kuperoleh dari kamar mandi (I was taking a bath while fantasizing about making an omurice. LOL). Entah Ina udah dapet ilmu dari Mama L*ren atau gimana, tiba-tiba dia tau kalo aku mau bikin omurice.

Tapi masalahnya, aku gak punya ayam. Akhirnya ke warung pengkolan beli telor dua biji dan satu sosis. Omurice yang awalnya adalah nasi ayam berhasil kupermak jadi nasi sosis ala anak kostan--minim ongkos. Okay, aku mulai iris bawang merah beberapa siung, dilanjutkan dengan nge-geprek beberapa siung bawang puting (maaf ya, lupa jumlahnya--short term memory chef wanna be). Gak lupa, sosis dipotong-potong, jangan sampe ketebelan, biar keliatan banyak.

Alrite. Panaskan minyak secukupnya. Begitu minyaknya lumayan panas, turunkan bawang merah dan bawang putih, tunggu hingga wangi.. Mmm.. yumm.. Setelah wangi, turunkan sosis, dan goreng hingga berwarna agak kecoklatan (pokoknya kira-kira aja deh, kalo waktu itu aku pake Sozzis, jadi suka-suka deh). Kemudian masukkan kecap Inggris, aduk beberapa saat, lalu masukkan nasi, sepiring aja, itu pun jangan banyak-banyak, yang kira-kira muat buat dimasukin dalam telor. Penggunaan kecap Inggris bukan karena alasan ilmiah, tapi kebetulan aja ada itu di dapur. Tambahkan garam dan lada hitam secukupnya, plus penyedap rasa, dikit aja. You guys, can create your own fried rice.

Sekarang bikin telurnya. Kalo kemarin aku bikin sih, telurnya pas dicoba enak, tapi pas dimakan sama nasinya, agak asin, walaupun masih acceptable dan gak ngalahin tekstur telurnya yang masih lembut. Kocok lepas dua butir telur, tambah garam secukupnya. Nah, selanjutnya, panaskan teflon dengan minyak atau margarin, lalu masukkan telur saat munyaknya udah panas. Biarkan beberapa detik, agar bagian bawah telur mulai keras, tapi bagian atasnya belum mateng. Abis itu, masukin deh, nasinya. Tapi cuman setengahnya telor, terus matiin deh, komporya. gulung bagian telur yang gak ada nasinya, trus sisi yang berlawanan (walaupun ada nasinya) juga agak digulung. Tenang, ini keliatan susah dan berpotensi mess up, tapi jangan khawatir. Caranya, kalo kamu gak kidal, geser telornya ke sisi kiri teflon. Megang gagang teflon dari bawah, jangan dari atas. Lalu Tempelkan bibir piring pada bibir teflon (mudah-mudahan definisi bibir kita sama yak). Dengan cepat, sigap, namun tidak tergesa-gesa, balik teflon ke atas piring biar omuricenya mendarat di piring. Dan yaaaahhh.. jadilah omurice, tinggal hias pake saos atau kecap. Jadinya makan nasi goreng sosis sama telur yang teksturnya masih lembut dan wanginya.. mm... subhanallah.. Just try at home.

Anyway, gambar yang aku lampirin bukan my omurice, soalnya waktu itu kelaperan, keburu dimakan omuricenya..

Enjoy

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

A Tiramisu Project


Okay, this is new to me as well as my blog. I'm gonna talk about cooking. Yeah, some people know me as a girl which cannot cook. But now I just started learning how to cook. The first recipe that made me interested was tiramisu. It is a great Italian dessert, that from a movie I found out it means the Gods' food.

Again, from a movie (Julia and Julie) I saw how women can cook even if you not a professional and saw Julie wrote a blog as the result of her cooking based on Julia's recipes. Now I have many recipes to make in my mind, but I just dont have a guts to cook them, such as tiramisu, tuna melt cheese (that I will change to chicken melt cheese), or chicken pizza. In addition, I dont have any oven in Bandung, so I decided to cook them in Maros. One obstacle is my Mom. She usually criticizes me whenever I cook anything, like I was wrong, I should do this, bla.. bla... But me, I just want another experience, may be I'll make mistakes but at least I'll learn from them.

However, I got an idea. I will cook while my Mom away home. She is a teacher, and I'll make some food when she teaches. Later we will see whether or not she will like what I'll cook. I got a plan to start it with tiramisu. I watched the tiramisu making videos on youtube many times. I even played the same videos for more than once, just to make sure I understand. I also write down the recipe as it's easier for me to understand. Some ingredients like lady fingers and the kind of cheese (which I wrote but I dont remember) will be replaced by anything I can find in my hometown. God, please help me.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Just A Morning Revelation


Don't you do this... do this instead... bla... bla...

May be you, guys know who the person(s) that may talk to you like that. They could be your boy friend, your best friends, your secret enemies, or your parents. Right now somehow I wanna talk about the last person, parent, Mom.

Last night before falling asleep, I was just upset to my Mom. I'm not gonna tell the detail, but the part I didn't like is when she was nag and said that nobody cares about her. It was not a long sentence and not suppose to make upset, but I was. And as always, I never said a word even if I thought she was wrong, I didn't wanna insult her, even if I felt that I was completely right.

I thought I was guilty for doing nothing. But that made me guilty indeed. It was not me who committed "the crime", but I should be a part of a preventive action. I kept saying that just being me was enough for her, but it wasn't. I did the best to make her proud, it was good, but not the best. I should be with her to educate my siblings, which I thought was not really my responsibility. I educated them, but apparently not well enough.

However, raising children, teenagers, is not easy, especially if you do it alone. But she does survive. May be she was not trying to blame me like I assumed, she's just trying to say that she was exhausted doing it all alone.

I am a kind of person who's not easily say "I love you" to my parents. It's even more difficult to say it in Bahasa, I don't know why. I just want her to know that I'm here also trying my best. It's not that I don't care, I just don't know how to show it. Being a good obedient girl was enough, but now I need to be a good sister to be a better daughter.

On the Bed,
February 5th 2011
09.52 am

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Wanita Dewasa vs Wanita Manja


Wanita dewasa...
tersenyum walau itu sakit, lantaran tak ingin membuat orang lain gundah.
Wanita manja...
mengeluh walau sakitnya tak seberapa, agar orang lain tau bahwa dia butuh diperhatikan.

Wanita dewasa...
melihat musuh sebagai pemanis perjuangan, agar kelak dapat dikenang perjuangan itu tak pernah mulus.
Wanita manja...
melihat musuh sebagai debu yang mesti disingkirkan, agar kelak dapat dikenang betapa tangguh saat dia berjuang.

Wanita dewasa...
menawarkan bahunya untuk menangis walau bahu itu pun memiliki beban berat untuk dirinya.
Wanita manja...
tertunduk tanpa kata, menghela nafas panjang dan bergumam dalam hati, "bebanmu belum seberapa".

Wanita dewasa...
menjelaskan dengan logika dan menuturkan penuh perasaan alasan dia meminta sesuatu, meluluhkan dengan keanggunan.
Wanita manja...
merengek dan memelas bila meminta, meluluhkan dengan tatapan mata dan wajah yang penuh damba.

Wanita dewasa...
memberikan nasehat bijak bila kau gundah.
Wanita manja...
menceritakan lelucon agar kau dapat sejenak melupakan kegundahanmu.

Wanita dewasa...
mengetahui kapan dan kepada siapa dapat bermanja.
Wanita manja...
mengetahui kapan pun dan siapa pun dapat dijadikan tempat bermanja.

Nila Sartika Achmadi
Renungan pertambahan usia.
13 Januari 2010

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peimpi: Tak Ada yang Tak Mungkin


Sebuah impian tak akan berakhir sia-sia, walaupun banyak orang yang beranggapan semua itu tidak akan mungkin terjadi. Pelajaran pertama adalah: tidak ada yang tidak mungkin. Yang membedakan probabilitas keberhasilan dari sebuah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang adalah tren keberhasilannya di masa lalu. Untuk menciptakan tren itu, kita harus mencoba, walau gagal, bukan berarti kegagalan itu permanen. Setiap kali menghadapi kegagalan, percayalah bahwa kegagalan yang telah dilawati itu membawa kita semakin dekat pada keberhasilan.

Jadilah seorang pemimpi luar biasa. Pemimpi yang memiliki tekad yang kuat, yang tidak peduli orang berkata tidak mungkin; pemimpi yang melihat kemungkinan kecil dan berkata, "alhamdulillah masih ada peluang"; pemimpi yang menganggap kritikan orang sebagai cambuk pemicu semangat dan melihat simpati orang sebagai tandu penggiring kelelahan. Pemimpi ini tidak akan terhenti di dalam lamunan dan enggan beralih ke dunia nyata. Tapi dia membawa lamunannya ke dunia nyata dengan usaha keras. Dia memiliki impian dan bergerak untuk mewujudkannya.

Jangan larang seseorang untuk bermimpi. Jangan kucilkan dia karena bermimpi terlalu tinggi. Pemimpi inilah yang mungkin akan merubah masa depan. Dari pemimpi tangguh seperti Soekarno, Indonesia diakui kemerdekaannya. Dari pemimpi anggun seperti RA Kartini, wanita Indonesia bergerak mencari kebebasannya.

Biarkan mereka bermimpi, lalu tunjukkanlah bahwa mimpi itu bisa terwujud asal mereka berusaha.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

I Miss Home



"I do miss home...."

No place's better that home. I never regret my decision to leave home and get education so far from home. It's not only the distance, but the high cost too. Hm... I can't deny that the high transportation cost to my hometown makes me rather difficult to go home. It's not because I can't afford the money (I can't because I have no income, but it's not the reason) but because I feel bad to my mom. Every time I ask for money, I don't want her to work harder in order to give me that money. She already works hard. However, mom is mom. She never wants me to stay here in a long holiday and become a lonely loner alone.

See the bright side. Being so far from home makes me a bit more independent. I admit that. Yayaya... I know that some people said that I'm so a mama's daughter since I hardly can do house keeping and bla bla bla. May be they just do not know how much I've improved. But still, there are many holes to fulfill just to call me a good woman--for a good woman here must do house jobs.

19 days to go....

Insya Allah I'll be back on August 30th. Yah, about 19 days later. I can't wait to see my family, my friends, my hi school teachers and do many things with them. Spending Ramadhan at home honestly makes me feel much better. One of the reasons is being with mom is such a great thing. Tell me about that.

I'll tell you one secret reason why I'm so excited about this holiday. It's my plan to discuss, I mean negotiate something with mom. I can't tell you what, I just want you to know that I have something to say to her.

Now let's try to focus on what I'm doing here, then prepare my self--and my baggage--to be home ASAP. good luck, everybody....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pra Nikah 2: Manajemen Pra Nikah


Pernikahan bukanlah akhir dari segalanya. Ini merupakan awal dari sebuah perjalanan yang masih panjang. Pernikahan membutuhkan ikhtiar. Salah satu bentuk ikhtiar kita adalah husnudzan billah. Pernikahan diawali dengan cinta pada Illahi. Jika cinta ditempatkan pada koridor, akan memperkuat cinta kita pada Illahi. Tentu saja cinta yang dimaksud adalah cinta setelah pernikahan.

Seperti pada materi pra nikah sebelumnya, pada artikel ini akan dibahas mengenai apa saja yang perlu disiapkan sebelum pernikahan. Ini saya peroleh dari sebuah kajian pra nikah.

Ilmu
Dua rakaatnya orang berilmu lebih baik dari ribuan rakaatnya ahli ibadah yang menjalankan ibadahnya tanpa ilmu. Di surga, tingkatan orang berilmu lebih tinggi dari ahli ibadah. Ilmu yang perlu digali adalah mengapa kita berislam. Setelah menjadi muslim, lalu siapa kita ini? Kita adalah aktivis dakwah. Mengapa kita menjadi aktivis dakwah?

Selain itu, pahamilah konsep diri. Wajar kiranya seseorang memiliki standar atau kriteria calon pasangan yang diinginkan. Namun jangan persulit diri. Mungkin yang ideal itu memang baik, tapi belum tentu cocok dengan kita.

Ilmu yang perlu dimiliki adalah:
  • Hak dan kewajiban suami istri
  • Pendidikan. Ilmu mendidik suami / istri dan anak-anak
  • Kesehatan
  • Hukum, etik, pernik pernikahan dan kerumahtanggaan

Mental, Moral, Spiritual
Bagian ini adalah ketika kita harus siap menerima pasangan apa adanya. Keberanian untuk melakukan sesuatu, termasuk memulai dan menjalani pernikahan harus disertai dengan kehati-hatian.

Kemantapan niat dan langkah untuk menikah juga menjadi bagian dari persiapan itu sendiri. Untuk memperoleh kemantapan hati, kita perlu melakukan istikharah. Dalam istikharah, biarkan Allah yang memutuskan. Pastikan bahwa kita telah sadar bahwa pernikahan bukan jalan untuk melegitimasi nafsu. Setelah itu diperlukan keistiqamahan dalam prinsip mendatangkan dukungan Allah.

Ada beberapa momen yang menjadi saat-saat kita memerlukan keihklasan (kekuatan lebih agar dapat ikhlas):
  • Saat menerima pasangan apa adanya
  • Saat bertanya dan menegur pasangannya
  • Saat mencari rizki yang halal
  • Saat mendapat ujian berat dari Allah
  • Saat berada di kebuntuan gua yang gelap
Berikut adalah langkah menuju ikhlas:
  • Tanyakan pada diri kita apakah kita rela bila jodoh belum datang.
  • Apakah kita rela bila jodoh tidak sesempurna yang diharapkan
  • Apakah kita rela bila orang tua tidak merelakan

Fisik
Kenali sejak dini kekurangan fisik kita. Hal ini memudahkan kita untuk mengkomunikasikannya dengan pasangan. Jika calon pasangan memiliki penyakit, tidak mutlak kita harus mundur. Jika penyakitnya masih dapat ditolerir, yang harus kita ketahui adalah pertolongan pertama saat penyakit tersebut kambuh, dan lain-lain mengenai penyakit tersebut.

Materi - Finansial
Kesiapan secara finansial bukanlah satu-satunya tolak ukur. Misalnya untuk seorang laki-laki, walau tanpa pekerjaan tetap, asal tetap bekerja, itu cukup memadai. Mungkin kita bisa mencari referensi lain mengenai standar finansial pra nikah, yang jelas jangan jadikan keinginan akan kelimpahan materi sebagai penghalang pernikahan

Sosial
Sosialisasikan kepada orang tua dan keluarga dekat mengenai kriteria calon suami. Tidak jarang kriteria yang diinginkan anak berbeda dengan yang diinginkan orang tua. Perbedaan ini bisa ditepis jika jauh-jauh hari sebelum pernikahan kita sosialisasikan keinginan kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS